Tampilkan postingan dengan label amal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Terpesona Gerakan Solat, Puluhan Tentara Korea Selatan Masuk Islam




Seorang kontributor sebuah media online mengabarkan melalui facebooknya kalau ada sekitar 38 Tentara korea selatan yang bertugas di irak secara mengejutkan memutuskan untuk pindah Agama ke agama islam.
Tentara korea selatan yang masuk islam itu nyaris sebagian besar, sekitar 37 orang, berpangkat prajurit dan satu tentara lainnya berpangkat kapten.
Meskipun hanya satu orang yang berpangkat kapten, tetapi ternyata sang kapten itulah yang mempengaruhi ke-37 anak buahnya untuk masuk islam. Kapten yang diketahui bernama Kapten San Jin Gu yang menjabat sebagai komandan brigade 11 SF, Pasukan Penjaga perdamaian PBB dari korea selatan yang ditempatkan di wilayah irbil, Irak Utara itu mengaku terpesona dengan gerakan solat.
Menurut sang kontributor, saat bertugas menjadi pasukan penjaga perdamaian di Irak, sang kapten acap kali mengamati prilaku orang muslim irak yang berbondong-bondong taat untuk sholat ke Masjid, hal ini ia lakukan bukan dalam tugas memata-matai, melainkan karena markas komandonya terletak berdekatan dengan sebuah masjid.
Saat memperhatikan gerakan-gerakan sholat yang dilakukan oleh rakyat irak, ia sedikit tertegun dan berniat untuk mencoba sendiri seluruh gerakan sholat yang ia pelajari hasil dari pengamatannya itu sendirian di kamar dinasnya.
Saat mempraktekkan gerakan sholat itu sang kapten San Jin-Gu merasa ada ketenangan batin yang menghinggapinya. Karena itulah ia menjadikan gerakan sholat sebagai salah satu olahraga meditasi yang diwajibkan kepada para anak buahnya. Ternyata setelah dikenalkan dengan gerakan meditasi ala sholat itu, para prajurit juga merasakan ketenangan dan kedamaian yang sama dengan sang kapten.
Akhirnya, setelah itu kapten San Jin-Gu memutuskan untuk mempelajari islam lebih banyak dan lebih filosofis lagi sebelum akhirnya ia mantap memilih islam sebagai jalan baru dalam kehidupannya.
Saat mengaku ingin memeluk islam kepada anak buahnya, tanpa diduga, ke-37 anak buahnya juga menyatakan diri untuk ikut bersama sang kapten masuk Agama islam.

Jumat, 13 April 2012

Kejahatan Kita

Bissmillah ya rohman ya rohim

Ini tulisan bukan sebuah pandangan dengan sudut pandang lain seperti kebayakan orang ambil, ini adalah pandangan yang seharusnya kita ambil dari dulu.

Akidah merupakan posisi hati menempatkan keberadaan diri ini sebagai kholifatullah dan abdullah, dengan demikian ketika kita menemukan sesuatu maka akidah akan membicarakannya dengan baik.

Perjuangan akidah melalui tahap penanaman dalam diri kemudian setelah masuk dalam hati adalah mempertahannya dan memperkokoh sehingga kokoh sekokohnya. Sehingga gangguan seperti apapun bisa kita lalui dengan bismillah.

Setiap generasi didalam mempertahankan akidah sama pentinggya perjuangan tersebut, era sekarang perjuangan akidah mendapat serangan melaluli pandangan-pandangan yang membahanyakan posisi iman.

Para sahabat memperjuangkan akidahnya dengan penuh semangat, ingat bilal yang harus dijemur dipadang pasir dengan tubuh di tindih oleh batu yang besar. Ingat tawaran orang-orang kafir terhadap rasul yaitu perempuan, jabatan dan kekuasaan, hingga pada tingkat tertinggi adalah tawaran dari orang kafir berupa tukar tambah akidah, maksudnya orang kafir mau menjalankan ibadah seperti sholat jika islam mau menyembah berhala. Namun mereka berhasil meraih kejayaan, .

Begitu juga para pejuang akidah di Indonesia, mereka demi mempertahankan akidah rela mati syahid dalam posisi jongkok dalam rendaman air, mati dalam posisi berdiri, secara perlaahan siksaan itu datang terus-menerus demi runtuhnya iman para pejuang akidah. Padahal dengan sekedar membungkuk kearah matahari terbit maka nyawa mereka akan selamat.  Namun mereka tahu bahwa pejuang akan diberi hadiah surga. Tidak percaya, tanya saja mereka.

Sebuah kejahatan besar teryata telah kita lakukan selama ini. Apakah kita menyadari. Belum, setelah membaca nanti mudah-mudahan kita sadar.
Kita telah menghina perjuangan mereka.
Ketika mengunjungi lawang sewu, masuk ruang eksekusi para mujahid. Apa yang tergambar dalam pikiran anda. Adakah anda mendo’akan agar ibadah mereka dirihdoi oleh allah. E malah mikir yang tidak-tidak. Cocote..., ngeweh.
Membuka indra x, dengan tujuan ingin melihat saudara-saudara kita dialam lain. Ya ngak usah nunggu di lawang sewu lah, di manapun bisa kita lihat. Setelah anda mendapatkan keberadaan mereka melalui indra kalian yang dapat menangkap energinya. Apa yang anda lakukan?, bercerita pada orang lain. Ternyata kita telah melakukan kesalahan lagi. Apa itu. Kita menyembunyikan semangat berjuang mempertahankan islam ini dengan cara menceritakan apa-apa yang anda lihat lewat indra yang overdosis itu. Mungkit tidak bermaksud untuk itu, namun sadarilah.
Seharusnya kita menceritakan bahwa para pahlawan akidah berjuang dengan semangat yang luar biasa. Maka kita perlu meniru semangat mereka.
Kawan,!. Mereka kehilangan waktu dhuha karena perang. sedangkan kita.. .  ., apakah kita memaksimalkan nikmat tersebut.  Astagfirullah ya goffar
Yang Menyalin: Salt water boy

Minggu, 06 Maret 2011

Ikhlaslah Beramal


Bicara tentang iklhlas, saya jadi teringat film "Kiamat Sudah Dekat", ketika tokoh utama yang dibintangi Andre "Stinky" -seorang anak band yang urakan- ingin menikah dengan puteri seorang Kyai. Permasalahan muncul ketika Kyai tersebut memberi syarat-syarat yang sebenarnya semula berniat ingin memberatkan, agar dia tidak jadi nikah dengan anaknya, karena Sang Kyai sudah punya calon yang dianggapnya mebih baik. Semua syarat diberikan, mulai dari disuruh sunat (supit), harus bisa sholat, bisa ngaji dan ditanya tentang pekerjaan, dan semua ternyata bisa dipenuhi. Hingga pada akhirnya Sang Kyai memberi syarat terakhir -yang lagi-lagi agar memberatkan dan tidak jadi nikah dengan anaknya-, dia memberi syarat agar cowok ini memepelajari ‘ilmu ikhlas’, dalam rentang dua minggu.


Keinginan sudah terlanjur kuat. Cowok ini menyanggupi. Teman-teman bandnya dikerahkan, mencari berbagai referensi, ngobrak-abrik perpustakaan, cari-cari di berbagai toko buku untuk mencari ‘ilmu ikhlas’. Setiap buku yang ada kata 'ikhlas' di dalamnya langsung diambil dan dibeli. Bahkan disatu tempat, teman-temannya ngajak mencabut plang masjid 'Al-Ikhlas'. Lol.

Setiap hari dia habiskan buat membaca buku-buku itu. Bahkan bandnya hampir-hampir dibubarkan karena cowok ini jadi jarang latihan.

Dua minggu berlalu. Cowok ini ternyata tak kunjung menemukan apa yang disebut sebagai ‘ilmu ikhlas’. Ahirnya dia mendatangi Kyai dan berkata pasrah: "Pak Kyai, saya tidak bisa menemukan ilmu ikhlas yang Anda syaratkan. Saya sudah dapat banyak pelajaran dari syarat yang diajukan, sekarang saya bisa sholat dan mengaji, keluarga sayapun demikian. Saya rela meskipun tidak jadi menikah sama puteri Anda". Namun justru karena inilah, Sang Kyai menyadari bahwa si cowok telah menemukan ilmu ikhlas itu, singkat cerita dia pun dinikahkan dengan anaknya.

Melihat kisah tersebut kira-kira apa yang kita fikirkan? (ga ada). Hemm.. baiklah, saya tidak tahu harus menyambungkannya dari sebelah mana, yang jelas di sini saya ingin menyampaikan tentang keikhlasan.

IKHLAS IS...
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersoh tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-NYA dan tidak menyekutuan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangngkan secara istilah, ijhlas berarti mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukannya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

SYARAT DITERIMANYA AMAL
Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat utama diterimanya amal. Simak beberapa dalil ini.
Firman Allah dalam Al-Qur'an (yang artinya): "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya (mukhlis)." (QS. Az-Zumar [39]: 2).
Rasulullah Saw. bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukakan karena mengharap ridha Allah semata" (HR. An-Nasai dan Abu Dawud).
Imam Syafii pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesugguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah ‘Azza wa Jalla”
Seperti itulah pentingnya ikhlas. Sedemikian pentingnya ikhlas ini hingga menjadi pembatas diterima atau tidaknya amal seseorang. Saya kira tidak perlu diberi pembahasan terlalu panjang dibagian ini.

CIRI IKHLAS?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar kita bisa merasakan dan mencoba mengidentifikasi keikhlasan? Apakah bisa seseorang mengatakan: "Dia itu ga ikhlas, cuma pengen dipuji" atau: "Kalo ngasi itu yang ikhlas, dong!". Seolah dia sangat tahu isi hatinya. Lebih adil dan layak, sebenarnya perkara keikhasan adalah prerogatif si pelaku. Dia yang bisa menentukan dan merasakan. Akan cukup sulit memang jika kita ingin menilai keikhlasan orang lain secara dzahir. Namun cara yang paling mudah untuk mengukur keikhlasan seseorang menurut Al-Banna: "Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu."

Ya, kira-kira seperti itulah ciri keikhlasan. Kita sedemikian enggan mnggebar-gemborkan amalan yang dilakukan. Atau secara khusus dalam amalan sedekah, keterangan lain mengatakan : “Jika tangan kananmu memberi, maka janganlah tangan kirimu sampai mengetahui”. Ini artinya ketika kita berinfaq atau shodaqah dengan tangan kanan, maka tangan kiri kita harus disimpan dibelakang, atau dimasukan ke saku celana, kecuali yang kidal (LHO..?! ngawur). Tentu maksudnya bukan begitu, artinya ini bagian dari kehati-hatian dan penjagaan hati agar tidak menimbulkan niatan lain selain karena Allah (riya’). Riya' hanya bisa membuat Allah 'cemburu', karena riya' adalah menduakan Allah syirik (kecil). Ada orientasi selain Allah.

Dalam satu kesempatan, AA Gym pernah menyampaikan bahwa analogi ikhlas adalah seperti kita sedang (maaf) BAB alias Buang Air Besar (entah sebesar apa airnya). Pernah buang air besar, kan? Nah, ketika buang air besar, -apalagi jika di daerah umum (sekolah, kampus, dll.)- maka kita akan berusaha melakukannya serapi dan seefisien mungkin, bukan? Pintu WC dikunci rapat-rapat, pelucutan celana setenang mungkin. Kita pun mulai bertapa (baca: jongkok) dengan sangat berhati-hati dan berusaha mengeluarkan “itu” se-silent-silent-nya, seperti jargon mobil Panther hingga :”nyaris tak terdengar”. Bahkan jika masih kurang, keran airpun dinyalakan untuk meredam dentuman-dentuman roket yang tidak terkontrol. Sementara tangan hanya bisa berpegang teguh pada gayung yang ada. Kemudian ketika selesai, segera diguyur hingga bersih, dan kita keluar sambil bersiul seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Begitulah seharusnya dalam beramal. Dilakukan dengan ikhlas. Kita mengerahkan apapun semaksimal mungkin ketika amal itu dilakukan. Namun jika sudah selesai, lupakan! Cukup Allah yang menilai.

Wallahu A’lam.

(Diar Rosdayana)

Laman