Jumat, 04 Februari 2011

GURU DAN KARAKTER BANGSA

Oleh Wira


Segala sesuatu yang di buat oleh manusia tentu saja ada tujuannya. Misalnya saja pancasila yang di buat oleh bangsa Indonesia juga ada tujuannya. Tujuannya yaitu untuk di pergunakan sebagai dasar Negara kita melalui perdebatan yang sangat panjang dari kaum elit Indonesia pada saat itu,.Jadi dilihat dari fungsinya, pancasila memiliki fungsi utama sebagai dasar Negara RI. Dilihat dari materinya, pancasila di gali dari pandangan hidup bangsa Indonesia yang merupakan jiwa dan kepribadian bangsa. Dasar Negara pancasila terbuat dalam materi atau bahan dalam negri yang yang merupakan asli murni dan menjadi kebanggan bangsa. Dasar Negara kita ini bukan imporan dari luar, ya walaupun mungkin saja sedikit banyaknya mendapat pengaruh dari luar negri. Mengenai nilai-nnilai apa saja yang terkandung dalam pancasila pada hakiaktnya ialah tidak lepas dari pandangan hidup, kesadaran, serta cita-citahukum dan watak bangsa Indonesia yang pada tanngal 18 agustus 1945 telah dimurniakn dan di padatkan oleh PPKI, pancasila menjadi dasar Negara RI.



Sekarang, kita lihat tentang pendidikan, pada hakikatnya adalah upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu Negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerusnya, selaku warga masyarakat, bangsa, dan Negara, secara berguna(berkaitan dengan kemampuan spiritual) dan bermakna (berkaitan dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik) serta mampu mengantisipasi hari depan mereka yang senantiasa berubah dan selalu terkait dengankonteks dinamika budaya, bangsa, negara dan hubungan internasionalya.[1]

Di atas telah di uraikan sekilas mengenai pancasila dan pendidikan. Nah, untuk apa sih di ceritakan keduaduanya. Jadi di antara ke duanya itu memiliki hubungan yang sangat erat sekali apabila kita menerawang Negara kita ini dalam hal dunia kependidikannya. Kedua-duanya itu harus disatukan menjadi satu paket yang komplit guna pengajaran yang lebih kependidikan dan berpancasilais(dalam artian memliki karakter bangsa atau akhlak yang baik) tidak hanya dalam hal menyerap ilmu pelajaran tapi juga dalam hal budi pekerti yang seharunya menjadi karakter bangsa yang seperti di cita-citakan.



Nah, dewasa ini dunia pendidikan kita mendapat tanatangan pengaruh kebudayaan dari luar yang kebanyakan kebudayaan yang tidak mendidik dan malah akan mengahncurkan bangsa ini. Itu semua efek dari globalisasi yang tengah berlangsung,bukannya tidak boleh kita menerima rangsangan dari luar, namun rangsangan yang seperti apa dulu yang kita adopsi itu, kalu itu untuk kemajuan bangsa dalam catatan tidak menghilangkan karakter asli bangsa itu tidak masalah, jangan malah sebaliknya. Nah untuk mencegah hal yang buruk itu perlu di adakan atau di munculkan kembali sifat-sifat atau lebih tepatnya nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila yang di terapkan melalui pendidikan.



Nah apabila kita bicara mengenai pendidikan itu tidak lepas dari peranan guru sebagai jembatan yang menghubungkan pancasila itu kepada para murudnya. Guru dalam hal ini memeiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk atau membentengi diri generasi bangsa(dalam hal ini menekannkan kaum muda) agar tidak goyah akan perkembangan arus globalisasi serta westernisasi.[2] Oleh sebab itu, untuk membentuk orang lain maka kita harus membentuk diri kita sendiri dulu. Dalam hal ini guru yang sebagai ujung tombak dalam membentuk karakter pancasilais ini kepada anak didiknya maka ia harus terlebih dahulu membentuk dirinya memjadi seorang yang memiliki atau berkarakter pancasilas.



Jadi guru tersebut memang memahami benar arti penting nilai-nilai, norma, sikap, tingkah laku, yang di jabarkan oleh kelima sila tersebut dan menjadi bagian yang utuh serta tidak terpisahkan dari seluruh cara hidupnya. Dalam artia lagi segala aspek yang terkan dung di dalam pancasila tersebut sudah mendarah daging di dalam diri guru tersebut, baru setelah itu beliau terpkan secara bertahap kepada para anak didiknya, dilakukan secara teratur dan terencana agar nilai-nilai yang terjkandung di dalam pancasila tersebut dapat tertanam dengan baik pula dan mendarah daging di dalam jiwa anak didiknya.[3]



Namun dalam pembentukan nya, karakter pancasilais ini tidak hanya pada golongan dunia pendidikan saja yang mayoritas yang mendapatkan pembinaann itu hanya segelintir golongan(pelajar), tapi mencakup segala aspek yang ada di dalam masyarakat. Hidup bermasyarakat merupakan hidup bersama. Kehidupan bersama ini dapat dilihat dari beberapa segi, mulai dari ekonomi sampai pada pndidikan tadi. Dalam kehidupan bermasyarakat ini selalu Nampak unsure-unsur social yang menjadi objek studi sosiologi. Unsur-unsur social yang pokok ialah norma-norma atau kaidah-kaidah social, lembaga-lembaga social, kelompok-kelompok seryta lapisan social. Unsur-unsur itu saling terkait satu sama lain dan keseluruhannay btiu di sebut struktur social.[4]



Jadi maksudnya ialah tidak hanya dalam dunia pendidikan saja yang di tekankan utnutk memiliki karakter yang pancassilais ini, namun segenap unsure masyarakat yang ada di dalam masyarakat. Jadi semua nya mendapat dan memiliki karakter itu demi membentengi diri dari arus globalisasi serta westarnisasi yang datng dari luar guna mengembang kan kebudayaan mereka di tanah air kita yang kita cintai ini. Apakah mau kita terus di jajah oleh bangsa asing dan tidak mau berdiri sendiri seperti apa yang pernah di ucapaka oleh mendiang presiden kita yang pertama yakni Bapak Presiden Soekarno, yaitu berdikari. Kita di amantkan untuk mau bekerja sendiri, berusaha sendiri tanpa adanyacampur tanga pihak asing yang malah akan membuat kaki kita itu pincang bukan malah berdiri malah cacat dan tergantung pada orang lain.



Nah hal-hal seperti inilah yang harus di hindari dengan menumbuhkan serta menanamkan dan menerapkan semangat karakter asli bangsa kita yang termuat dalam pancasila. Untuk itu segenap aspek yang ada di dalam masyarakat di terapkan karakter itu, ya walapun sulit. Namun lama-kelamaan akan terbentuk dengan sendirinya, dan harus ada yang mengakomodir itu semuatermasuk pemerintah kita. Tapi dalam hal ini dunia pendidikan sangat berperan penting demi memperjuangkan itu semua agar terlaksana dengan baik. Lagi-lagi guru menjadi sebuah figure yang amat menentukan dalam perkembangan karakter generasi muda, apa akan berkarakter pancasila atau barat malah bahkan ga punya karakter sama sekali, jadi tidak jelas mau dibawa kemana nantinya bangsa ini.



Mungkin menjadi sebuah pertanyaan kenapa dunia pendidikan perlu bahakn sangat menetukan dalam hal pembentukan karakter bangsa ini yang smayoritas mereka merupakan golongan muda. Itu di karenakan bahwa para golongan muda lah yang amat berperan penting dalam menetukan arah kapal Negara ini akan tetap kokoh walau ada ombak yang menghadang yang di sebabkan jiwa yang penuh semangat. Nah kalu di lihat dari konteks sejarah pun para golongan nuda lah yang benar-benar bersemngat penuh untuk lepas dari jajhan. Mulai dari gerakan intifadah yang mayoritas pemuda-pemuda palestina yang menginginkan kemrdekaan penuh dari jajahan Israel. Begitu juga Indonesia yang mulai dari sumpah pemuda samapai pelaksanaan dan detik-detik kemerdekaaan Indonesia.



Misalnya, hari-hari setelah 29 agustus adalah hari-hari penuh pergolaka. Hal itu terjadi karena kurang tanggapnya KNI Daerah sehingga memunculkan Peristiwa Tiga Daerah(Pekalongan, Brebes, dan Tegal), konflik pemuda dan tentara Jepang yang meletuskan Perang Semarang, atau Bandung Lautan Api bulan Oktober-November Perang Surabya, dan berbagai Peristiwa lain. Semua dalam upaya menegakkan Republik yang oleh para sejarawan periode kritis 1945-1949 itu di masukkan sebagai Perang Revolusi. Mahasiswa dan pemuda yang sejak awal terlibat, serentak dengan semangat bersama mempertahankan Republik, membentuk sebagai lascar dan barisan perjuangan. Catatan detik-detik sebelum dan sesudah Proklamasi, akhirnya adalah catatan-catatan kecil, sekadar mengingatakan mata rantai proses kelahiran sebuah bangsa dan Negara Republik Indonesia.[5]

Jadi sudah jelas lah kiranya bahwa pemuda itu berperan penting dalam membangun dan menjaga kestabilsan sebuah bangsa dan Negara. Bukan berarti para golongan tua tidak mempunyai peranan, mereaka tetap berjasa dan berperan untuk sampai saat ini. Namu di tangan pemuda itu lebih memiliki jiwa semangat yang lebih di bandingkan yang sudah berumur, ya di sini butuh kerjasama di antara mereka. Yang tua berbagi pengalaman kepada yang muda dan yang muda jangan main seenak nya sendiri saja mentang-mentang sudah di beri keprcayaan. Maka dari itu ddalam dunia pendidikan yang mayoritas pelajar yang pstinya golongan muda butuh arahan dari yang lebih berpengalaman yaitu guru yang menjadi panutan mereka di sekolah maupun di tingkat universitas nantinya. Jadilah seorang pendidik yang menanamkan nilai-nilai luhur bangsa ini, bagaimana etika, nilai, sikap, prilaku, baik itu sesame manusia maupun dengan sang pemcipta. Karena semua itu tercakup di dalam pancasila yang menjadi karakter bangsa ini. Apabila itu semua telah tercapai maka akan terbentuk karakter bangsa yang selama ini di cita-citakan dan guru amat sangat berperan dalam memperjuangkannya.



Menjadi seorang pendidik yang berkarakter pancasilais itu sulit namun itu bias, bagi yang benar-benar memahami nilai-nilai apa saja yang tekandung di dalam ancasila tersebut, misalnya sifat lebih menghargai usaha anak didiknya yangt sungguh-sungguh ingin belajar tidak hanya melihat atau menilai itu dari hasil nya saja, jadi lebih sedikit menghargai usahanya mauppun prosesnya. Sekali lagi untuk menumbuhkan karakter itu butuh perjuangan panjang dan penuh tantangn untuk menerapkannya, apalagi membinaanya ke dalam jiwqa para pelajarnya, ya yang sekarang ini lebih suka dengan kebarat-baratan, memenag itu sulit namun bisa.





[1] Rukiyati,M. hum, dkk. (2008). Pendidikan Pancasila.Yogyakarta: UNY Press. Hal.2





[2] http://tuanmalam.blogspot.com/2009/05/pancasila-di-zaman-presiden-soekarno.htm



[3] Bakry, Noor MS. (1985). Pancasila Yuridis Kenegaraan . Yogyakarta: Liberty. Hal. 185





[4] DR. Suwarno, P.J, S.H. (1993). Pancasila Budaya Bangsa Indonesia. Yogyakarta : Kanisius. Hal. 133



[5] Yunarti D. Rini (2003). BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdakaan RI. Jakarta : Kompas. Hal. 155

Selasa, 18 Januari 2011

Kedudukan dan Peran Ratu Kalinyamat pada abad ke XVI di Jepara.

Wira Syafutra

1. Pernikahan Sang Ratu
Seperti yang telah diketahui bahwa suami dari ratu kalinyamat itu adalah seorang pangeran dari Aceh yang bernama Raden Toyib atau lebih dikenal dengan Pangeran Hadiri yang berarti seorang pangeran yang hadir atau datang dari tempat lain. Awal dari pertemuan mereka ialah saat sang ratu melihat Raden Totib sedang berkerja. Saat itu dalam hatinya berkata bahwa beliau bukanlah orang biasa. Sampai suatu ketika Raden Toyib di penjara karena dia tidak mau menjawab pertanyaan sang ratu mengenai asal-usul nya.

Sampai pada suatu ketika sang Raden mau member tahu tentang siapa dia sebenarnya. Hal itu membuat sang ratu semakin berdebar-debar hatinya ditambah lagi dengan ramalan mendiang sang ayah yang menyatakan bahwa yang kelak akan menjadi jodoh sang ratu itu ialah pemuda yang berasal dari negeri seberang bukan dari tanah jawa.

Setelah sekian lama penantian sang ratu untuk mendapatkan hati dari pujaan hati akhirnya cinta sang ratu terbalas dengan pernikahan saat sang ratu minta dinikahi dan sang pangeran tidak menolak. Nah secara otomatis ia menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan Demak. Mereka mendapat wilayah di Jepara dan menjadi penguasa di sana.Sampai nanti pada akhirnya terjadi perebuatan tahta kekuasaan di Demak setelah tewasnya penguasa Demak yakni Sultan Trenggana.

Setelah terbunuhnya sang sultan terjadi perebutan tahta kerajaan di kalangan kerabat kerajaan. Perang saudara mewarnai konflik internal di kalangan kerajaan. Namun yang menjadi pemegang tahta selanjutnya yakni puteranya yang bernama Sunan Prawata.

2. Balas Dendam Arya Penangsang
Seperti telah di sebutkan di atas bahwa adanya konflik internal di kalangan kerabat anggota keluarga kerajaan Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana sebagai penguasa Demak. Sampai akhirnya yang menggantikan beliau adalah Sunan Prawa yang tidak lain ialah anak dari Sultan Trenggana. Karena Sultan Prawata pernah membunuh pamannya, masa pemerintahannya di warnai dengan suasana dendam. Pamannya itu bernama Raden Mas Alit yang merupakan adik dari ayahnya yang kemudian di kenal dengan Pangeran Seda Lepen.

Peristiwa pembunuhan itu terjadi akibat rasa iri dari sang keponakan yang berfikir bahwa kelak apabila ayahnya meninggal dunia yang akan menggantikannya sebagai sultan ialah pamannya. Pamannya yang juga dicintai rakyat Demak sebab sifatnya yang terpuji dan juga taat beribadah. Nah, pamannya ini memiliki dua orang putra yakni, Raden Penangsang dan Raden Mataram. Sepeninggal ayahnya, Raden Penangsang di angkat menjadi bupati Jipang Panolan denagn gelar Arya Penangsang. Ia berniat akan membalas dendam atas kematian ayahnya. Niat tersebut mendapat dukungan dari Sunan Kudus yang tak lain ialah gurunya sendiri. Tidak hanya Arya Penangsang yang menjadi murid Sunan Kudus, masih ada Sultan Pajang dan Sunan Prawata itu sendiri. Namun Arya Penangsanglah yang menjadi murid kesayangan Sunan Kudus.

Pada waktu itu kerajaan Demak, tampaknya belum memiliki system pewarisan tahta yang pasti. Oleh karena itu, Arya Penangsang merasa berhak atas tahta Demak. Akhirnya Sunan Prawata dan Permaisurinya dapat dibunuh oleh rangkut dan gopta, suruhan Arya Penangsang.


Dengan terbunuhnya Sunan Prawata semakin memperkuat keinginan Arya Penangsang untuk menjadi raja dengan cara merebut kekuasaan Demak. Arya Penangsang, demi mencapai semua keinginannya ia berusaha menyingkirkan seluruh pesaing-pesiangnya yang sekiranya akan mengahmbat proses keberhasilan tujuan dari Arya Penangsang itu sendiri.Tentu saja yang di prioritaskan oleh Arya Pengangsang ialah dari kalangan kerabat terdekat Sultan Trenggana.

Lalu yang menjadi sasaran berikutnya ialah Pangeran Hadiri, menantu Sultan Trenggana. Arya menganggap Pangeran Hadiri memiliki charisma yang sangat kuat untuk nantinay menghambat kelancaran tujaun Arya Penangsang. Pangeran Hadiri dinnggap dekat dengan raja, pengaruhnya dalam bidang ekonomi juga perlu di perhitungkan, ia juga mempunyai peluang yang cukup kuat untuk menduduki tahta kerajaan. Selain itu, kekuasaannya yang meliputi Pati, Jepara, Juawana, dan Rembang, mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting karena dekat dengan wilayah kerajaan, tentunya menjadi sumber anacaman bagi Arya Penangsang.

Memang sudah takdir dari yang maha kuasa, kalau akhirnya Pangeran Hadiri tewas dibunuh. Sebelumnya mereka (Pangeran Hadiri dan Ratu kalinyamat) sedang mengunjungi Sunan Kudus untuk meminta keadilan perihal kematian saudara laki-laki dari Ratu Kalinyamat yakni Sunan Prawata. Sepulang dari tempat sunan kudus, mereka dihadang oleh Arya Penangsang dan prajuritnya. Arya Penangsang berhasil membunuh Pangeran Hadiri.

Setelah Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri wafat, terbukalah kesempatan bagi Arya Penangsang untuk menduduki tahta kerajaan Demak. Apalagi dengan dukungan kuat dari Sunan Kudus menamnbah kesempatan Arya Penangsang untuk menjadi raja Demak sangat besar sekali terjadi.


Untuk mengatasi konflik di antara kerabat kerajaan Demak, Ratu kalintyamat telah menggunakan wewenang politiknya selaku pewaris penguasa kalinyamat. Hal ini dapat di ketahui dari janjinya bahwa ia akan menyerahkan seluruh harta kekuasannya kepada siapapun yang mampu membunuh Arya Penangsang. Adalah Hadiwijaya , sultan Pajang yang dapat membantu kalinyamat untuk mengalahkan Arya Penangsang. Di sini terlihat sesosok wanita yang begitu luar biasa, walaupun niat dan caranya salah. Namun terlihat sebuah cerminan wanita yang tegar dan kuat, berani mengambil sebuah keputusan besar dan dampaknya juga besar.

Setelah membunuh Prawata dan Hadiri, Arya penangsang juga penasaran dengan Hadiwijaya, terlihtat dengan ia merencanakan akan membunuh Hadiwijaya. Telah berekali-kali perencanaan terhadap Hadiwijaya direalisasikan namun gagal semua. Hal ini semakin mengukuhkan semanga Hadiwijaya untuk memenuhi permintaan sang ratu ( Ratu Kalinyamat) yakni membunuh Arya Penangsang. Sampai pada akhirnya Arya Penangsang gugur san kemengan berada di tangan Pajang.


3. Hubungan Demak-Jepara
Dalam perkembangan Kerajaan Demak, Jepara yang termasuk di dalamnya, mempunyai peranan penting sebagai pelabuhan pengekspor beras. Lalu, saat masa pemerintahan Raden Patah, Jepara mengalami perkembangan pesat dan juga memiliki kedudukan yang baik serta menguntungkan pada lalu linta perdagangan di kawasan Nusantara.

Jepara tidak hanya memegang peranan penting sebagai pelabuhan perdagangan, saja tetapi juga sebagai pangkalan angkatan laut Demak. Sewaktu masa pemerintahan Pati Unus, ia berusaha melengkapi armada untuk menyerang portugis yang di pusatkan di Jepara. Selain dua peminpin di atas, Salah satu pemimpin Demak, Sultan Trenggana, Jepara merupakan pelabuhan Demak. Nah yang cukup menarik untuk di soroti ialah saat Jepara di pegang oleh Pangeran Hadiri dan istrinya (Ratu Kalinyamat). Ratu kalinyamat menjadi tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga kesultanan Demak. Jepara memegang peranan dalam penentuan dan penetapan Raja Demak pasca tewasnya Sultan Trenggana,

Bearti hubungan Demak dengan Jepara pada saat itu ialah bagaimana fungsi dari Jepara itu sendiri terhadap keberadaan Demak. Jepara menjadi pelabuhan sekaligus temapt untuk menghimpun kekuatan dan juga menjadi pondasi awal terkai penetapan kekuasan Demak.

4. Jepara Sepeninggal Kalinyamat
Sepeninggalnya Ratu Kalinyamat, Jepara di perintah oleh putra angkatnya, Pangeran Jepara. Walaupun tidak sebanding dengan pendahulunya, namun ia telah memberikan yang terbaik bagi Jepara dengan pendudukannay terhadap Pulau Bawean di laut Jawa dengan armadanya. Ia juga di hormati dan juga menimbulkan sebuah kesan kepada orang Belanda seakan-akan memiliki sarana kekuasaan yang luar biasa.

Jepara hancur setelah adanya serbuan dari lascar mataram pada tahun 1599. Pada saat itu juga berakhirlah pemerintahan Pangeran Jepara. Akibat dari serangan ini ialah kerusakan yang berat, baik itu dalam bidang politik maupun ekonomi. Areal persawahan yang membentang luas itu juga rusak oleh ekspansi Mataram. Tujuan dari Mataram melakukan ekspansi itu ialah agar dapat menghilangkan semua perlawanan politik dan menguasai segala kekayaan yang di peroleh dari perdagangan.

Namun, Jepara tetap memegang peranan penting sebagai kota Bandar perdagangan di pantai utara Jawa pada awal XVII. Letaknya yang strategis membuat kompeni mendirikan benteng di sana pada tahun1615 yang pada awalnya seorang Belanda, Jacob van Heemskreck muncul di teluk Jepara pada 9 Maret 1602. Pendirian benteng itu sebagai loji untuk kepentingan kantor dagangyang di lengkapi dengan system pertahanan.

Peperangan juga sering terjadi dalam abad XVII yang menyebabkan kerusskan daerah persawahan.Akibat dari itu ialah berimbas kepada rakyat Jepara yang tidak dapat hidup di tempat itu. Sampai akhirnya pada akhir abad XVII, Jepara merupakan salah satu kota pantai yang besar. Cerita ini di peroleh dari seseorang yang pernah mengunjungi Jepara pada tahun1686 dan 1702 yakni francois Valentijn.

Selain itu, Jepara juga menjadi tempat pasar bebas yang barang dagangannya di jual dengan harga murah. Namun kabar tentang keluarga Raja jepara tidak ada kabar. Pada abad ke-17 Jepara masih berfungsi sebagai tempat antara pihak Belanda yang dari Jakarta dengan pihak Jawa dan pada saat yang sama juga, Jepara menjadi pelabuhan penting dari kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I kota Jepara menjadi ibu kota dari pasisiran Wetan, tempat kedudukan seorang bupati. Samapi akhirnya peranan Jepara yang berfungsi sebagai pusat kegiatan administrasi daerah pesisir di gantikan oleh Semarang.

Rabu, 12 Januari 2011

Pesantren Sehari Tutorial FISE UNY -Membangun Karakter dengan “Ngaji”-




Ratusan mahasiswa muslim FISE penuhi Taman Pancasila pada hari Minggu, 9 Januari 2011. Mahasiswa muslim FISE wajib mengikuti agenda Pesntren sehari yang diadakan oleh Tutorial PAI FISE UNY. Ini merupakan acara puncak dari kegiatan belajar-mengajar tutorial yang telah dilaksanakan mulai dari awal semester pertama.
Mengambil tema “Nggak Ngaji, Nggak Trendi”, acara ini menghadirkan Dwi Budiyanto yang sekaligus merupakan Dosen FBS UNY dan dimoderatori oleh Triyanto P. Nugroho, serta dibuka oleh Akur Wijayadi selaku Koordinator Tutorial FISE.
Dalam sambutannya Akur Wijayadi, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2006, menegaskan bahwa tutorial merupakan sebuah langkah dalam membentuk karakter mahasiswa. Selama ini steorotip “ngaji” hanya menjadi kewajiban anak kecil semata, tetapi “ngaji” merupakan kebutuhan semua usia. Karena seiring bertambahnya usia maka masalah yang dihadapi pun semakin kompleks.
Harapannya dengan “ngaji” dapat berperan dalam pembentukan karakter dan mental untuk menghadapi tantangan global, karena pengertian “ngaji” tidak hanya sebatas membaca al-Quran semata tetapi juga pengetahuan dan wawasan kontemporer. Kegiatan belajar-mengajar Tutorial yang berlangsung rutin sepekan sekali dipercaya dapat menjadi kontrol sosial sekaligus pengembangan karakter, karena setiap pertemuan dapat diisi dengan aneka program yanag kreatif dan dinamis.
Dwi Budiyanto mengungkapkan bahwa kesuksesan didalam banyak hal selalu dipengaruhi oleh kualitas diri. Beliau memberikan contoh bahwa keberhasilan Muhammad al-Fatih membebaskan Konstatinopel dalam usia 24 tahun merupakan gambaran dari sebuah kualitas diri. Hal ini telah ditegaskan didalam al-Quran. Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW ialah “Iqra”, perintah untuk membaca. Sedangkan ayat terakhir berarti “..telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..al-Maidah: 3.” Dalam konteks ini bermakna bahwa untuk mencapai sebuah kesempurnaan harus melalui pembelajaran.
Selain itu Dwi Budiyanto mengatakan, kesuksesan menjadi pribadi unggul membutuhkan passion serta kompeten. Untuk menuju hal tersebut maka yang diperlukan ialah kemampuan untuk menyisihkan sedikit waktu untuk belajar dan mengembangkan diri. Saat ini banyak sekali fenomena kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat akibat kurangnya ilmu dan rendahnya moral. Maka tutorial dapat dioptimalkan sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan dan karakter diri.
“Tutorial dapat menjadi lingkungan yang baik dalam pengembangan kapasitas dan karakter mahasiswa”, ujar trainer Profetika Training Center ini. Mengakhiri sesi, beliau berpesan bahwa dengan pendidikan sesorang dapat meraih separuh pintu kebahagiaan, tetapi dengan sikap dan karakter yang baik maka akan dapat membuka seluruh pintu kebahagiaan. Sikap dan karakter itu pun dapat dibentuk melalui “ngaji”.
Acara pesantren sehari ini juga dimeriahkan oleh grup nasyid Fatih. Grup yang lolos semifinal Swara Indonesia ini menghibur mahasiswa dengan menyanyikan tiga buah lagu.
[triyanto]

Seminar Ekonomi Islam "Potensi Zakat Selamatkan Ekonomi Indonesia"



Zakat dapat menjadi solusi bagi perbaikan ekonomi bangsa Indonesia. Zakat tidak hanya merupakan rukun islam yang ketiga semata, tetapi dapat berperan pula sebagai pemberdayaan dan distribusi ekonomi. Demikian dikemukakan dalam seminar nasional yang diselenggarakan hari Sabtu, 8 Januari 2011 oleh BSO CIES (Centre Islamic Economy Study) UKMF JM Al Ishlah FISE UNY.
Seminar yang diselenggarakan di Lab. Karawitan FBS dan bertemakan “Potensi Zakat Sebagai Solusi Perbaikan Ekonomi Indonesia” ini menghadirkan Prof. Dr. Muhammad, M.Ag dan Ahmad Pariyanto sebagai narasumber. Bertindak sebagai moderator ialah Pidi Winata, Presiden BEM REMA UNY tahun 2009. Turut hadir pula Mustofa, M.Si, dosen jurusan Pendidikan Ekonomi FISE UNY yang sekaligus merupakan pembina UKMF JM Al Ishlah untuk membuka acara.
Ahmad Pariyanto, Manager Program Dompet Dhuafa Yogyakarta menyampaikan pengoptimalan zakat untuk perubahan umat. Melalui usaha mnegubah mustahik menjadi muzakki. Jika ada mustahik yang tidak memiliki daya upaya untuk dapat bekerja, misalnya saja jompo atau cacat, maka dapat disantuni. Tetapi pada prinsipnya jangan sampai umat muslim punya dorongan untuk menjadi muzakki. Zakat juga dapat didayagunakan untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya saja melalui diklat kewirausahaan, ketrampilan, atau bahkan pendidikan.
Prof. Dr. Muhammad, M. Ag menegaskan bahwa pembangunan ekonomi merupakan kegiatan mengatur urusan rumah tangga nasional untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup penduduk. Dengan demikian, pembangunan adalah sebuah proses menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana secara arif dirumuskan oleh para founding fathers republik ini dalam mukaddimah UUD 45. Kalimat tersebut menegaskan bahwa pembangunan bukanlah proses peniduran atau pembodohan tetapi sebuah kerja dari seluruh komponen bangsa untuk memenuhi seluruh hajat hidup rakyat dan meningkatkan taraf peradaban.
Jumlah penduduk Indonesia yang besar, lebih dari 200 juta, merupakan sebuah aset sekaligus tantangan besar. Diperlukan perencanaan yang komprehensif dan integral atas sistem produksi dan distribusi terhadap pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan. Hingga saat ini, Indonesia belum mampu mengatasi persoalan mendasar ini.
“Dalam Pendayagunaan, ada beberapa kegiatan yang dapat dikembangkan dan dilakukan oleh lembaga amil Zakat, misalnya memilah ke dalam tiga kegiatan besar yakni pengembangan ekonomi, pembinaan SDM dan bantuan yang sifatnya sosial semata. Kegiatan ini dapat ditambah atau dikurangi sesuai dengan kemampuan lembaga, tujuan lembaga serta kondisi mustahik setempat. Misalnya perlu ada kegiatan yang sifatnya mengadvokasi pemerintah dan masyarakat untuk total menampung masyarakat yang terbelakang di hutan, misalnya. Barangkali perlu juga ada lembaga zakat yang niulai mengurusi persoalan lingkungan hidup”, ujar Rektor STEI Yogyakarta ini.
”Namun yang terjadi lembaga zakat memang punya keseragaman kegiatan. Kendati tanpa pernah diadakan pertemuan untuk penyamaan bahasa, semua lembaga zakat telah sepakat terjun di tiga kegiatan di atas”, lanjutnya.
Risang Purnawan, mahasiswa Pendidikan Ekonomi angkatan 2009 yang sekaligus menjabat sebagai ketua panitia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan solusi bagi keadaan ekonomi Indonesia yang semakin memprihatinkan. Jurang antara makro ekonomi dan mikro ekonomi terlau lebar sehingga memunculkan kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
“Kami ingin memberikan edukasi bagi mahasiswa dan masyarakat, bahwa zakat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dapat menjadi alternatif untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia”, ungkap Risang di sela-sela acara.
Seminar kali ini dihadiri oleh enam puluh lebih peserta yang berasal tidak hanya dari FISE semata, tetapi terdapat pula peserta dari fakultas lain di UNY. Diar Rosdayana, Ketua Al Ishlah periode 2011 berharap dengan adanya agenda kali ini dapat memperkuat wacana ekonomi syariah, masyarakat termotivasi untuk mengeluarkan zakat dan pemerataan pendapatan dapat terwujud. “Ke depannya Al Ishlah, melalui BSO CIES akan tetap berkomitmen dalam mengembangkan wacana ekonomi syariah ini.”, ujar mahasiswa jurusan PKnH ini.
[triyanto]

Laman