Jumat, 11 November 2011

SAAT GALAU MENULISKAN SAJAK KEKECEWAAN

Oleh Inung Pratiwi
Flashback sebentar lah…dulu waktu q mau pndah kos, pengennya ada kaka2 angktan atau ga yang bias bimbing aqlah…tentu terutama dalam bidang agama…Nah waktu memutuskan pindah ke kos ini, banyak keuntungan yg didapat..slain hotspotan gratis, deket pula dr kampus. Setelah beradaptasi, q ktmu kamar sebelah yg pake jilbab gedhe..Dalm hati alhmdllillah lingkungan ckup kondusif.
Beberapa hari berlalu..koq q liat si mb tetangg kamarku itu pergi dijemput cowok..atau klo gay a diapeli di bawah…deket bget malah (duduke sampingan no jarak)..waktu itu ku piker, mb.e dah nikah..Trus ku tanya mb kos lain yg dah lma di situ..’Mb..mb sblah tu dah nikah ea??’..q Tanya g2.. trus jwab’Mb itu? 'Ea blum lah dek…’ Gubrak….berarti slama ini…hm….jd ada sdkit illfeal saat itu…
Next..ada satu cerita lagi…yg ini di lingkungan kampus..
Langsung ke intinya saja…Saya kenal dengan seorang sosok yg patut jd panutan, seorang pemimpin, bias dibilang seperti itu..beliau itu saya tahu sejak awal tahun ini…Awalnya beliau tak terlihat dengan siapapun, namun beberapa bulan terakhir, beliau terlihat dengan seorang cewek…Nah sampai situ ga masalah…Tapi beberapa waktu kemudian, saya tahu beliau menjadi seorang tutor, yang harusnya memang jadi panutan. Stelah banyak orang tahu  kalo beliau jadi tutor, kayaknya kedekatan itu agak berkurang, jarang juga melihat berduaan…Namun, akhir2 ini,,,kq terlihat dekat lagi ea…
Sbnarnya kn itu emang urusan pribadi orang ya..tapi ketika orang tersebut menjadi sosok, yang banyak dilihat orang,,terutama adek angkatan ea. Terus apa kata mereka…koq tutor punya pacar, klo tutor saya aja punya, kenapa saya ngg…Trus klo ditanya adek2nya gmn dung?? Nantinya akan muncul banyak kekhawatiran dan pikiran2 negatif…
(CUPLIKAN MESSAGES DARI ADIK YANG SANGAT SPESIAL)

Membaca tulisan itu seperti melihat diri saya 3 tahun yang lalu. Saya seperti orang bodoh yang terjebak. Orang-orang berwajah malaikat itu terlihat seperti monster seketika. Masak melakukan hal yang menurut saya sepele saja tidak bisa. Illfeal seketika. Kabuuuurrrr….. *Gubrakk!!!*

AKU KECEWA!!!

Woi!!!... Please deh. Loe berubah karena apa? Untuk siapa?
Untuk para manipulator itu? Baiklah silakan menikmati kekecewaan sepanjang hayat.

Tetapi adikku, sungguh apakah engkau rela waktumu habis hanya untuk sebuah kekecewaan? Jika mau mencari, sangat banyak sekali celah dan kurang karena mereka adalah manusia-manusia biasa yang terus berproses menjadi baik dan ingin mengajakmu menjadi baik pula.

Tapi mereka itu sosok. Orang akan melihat kepadanya.
Lalu apakah dia tidak boleh salah sedangkan Allah tidak menghilangkan nafsu dalam dirinya setelah ia menjadi orang-orang hebat? Keadaan setiap orang itu berbeda dan selamanya tidak bisa disamakan. Ada orang yang baru bisa kita ajak naik ketangga pertama tapi ada juga yang sudah bisa langsung ke tangga 10. Lha wong sudah di tangga ke 9. It’s so simple bagi dia. Dan walaupun kita melihatnya antara 1 dan 10 tapi ternyata mereka sama-sama naik satu tingkat bukan? Tentu butuh waktu yang lebih lama untuk orang yang berangkat dari titik 0 menuju tangga ke 10. Bukan berarti kita memaklumi diri lho ya? Bagi kita yang berangkat dari titik 0 kita harus berlari untuk mengejar ketertinggalan. Iri nggak sih, umur sama-sama 18 tahun tapi dia sudah hafal Al-Quran dan menikmati Islam sedang kita masih jatuh bangun membangun keimanan? Tapi, peluh itu, dik… tidak setetes pun yang Allah lewatkan.
 Jadi, akan lebih bijak kalau kita melihat progresnya bukan membandingkannya dengan keadaan ideal. Mengajak orang pada kebaikan itu tidak bisa diartikan mengajaknya pada kebaikan ideal. Mengajak orang pada kebaikan itu mengajaknya pada kebaikan ideal berdasarkan realitasnya. Misal nih, ada seseorang yang selama 18 tahun usianya dia belum mengenal Islam. Dua tahun yang lalu setelah dia kuliah akhirnya ia memutuskan untuk memeluk islam dan memperbaiki diri (Kita tidak pernah tahu Allah menyampaikan hidayahnya kepada siapa). Dia aktif di banyak organisasi, bahkan menjadi pemimpin keren di organisasi itu. Dia juga menjadi tutor untuk menyampaikan ilmu sederhana yang ia miliki. Tapi, tentu tidak mudah merubah kebiasaan yang terbentuk selama 18 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Terkadang tanpa sadar kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah dilarang muncul bisa secara spontan akan terhidang tanpa sadar. Adilkah kita menghakiminya? Adilkah kekecewaan itu kita sampaikan kepadanya? Jika kita melihat diri kita sendiri, tidakkah diri ini lebih mengecewakan karena selama 18 tahun berIslam belum berbuat apa-apa?

Tapi kenapa mereka harus seperti itu. Kalau memang belum baik kenapa harus pura-pura baik? Kenapa harus berpura-pura dihadapan orang yang tidak mengerti apa-apa? Seperti pembohong!
Sungguh adikku… sedikit pun tidak ada niat mereka untuk menjadi manipulator yang memakaikan topeng keindahan pada wajah buruknya, yang memakai pakaian putih suci meski hati lebih kotor dari kubangan lumpur. Itulah keterbatasan. Kalau kita menunggu semua kita baik, apakah kau ingin menyaksikan kehidupan ini hancur sebelum kita berbuat apa-apa? Kalau mereka mengeluarkan wajah-wajah monster menakutkan, engkau akan lari sebelum engkau tersentuh dengan kebaikan yang ingin mereka sampaikan. Bukankah penjual itu juga akan menyimpan barang dagangannya yang busuk? Harapannya si pembeli tak akan mendapatkan barang busuk yang merugikan itu. Kalau pun ada jualan busuk yang ternyata ketinggalan dan akhirnya diambil pembeli, itu adalah keterbatasan penjual. Percayalah… yang mereka niatkan hanya ingin mencelupkanmu pada samudra kebaikan itu.

Tapi… tapi… tapi… Ya Allah… bahkan mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan ilmu sederhana yang mereka sampaikan.
Jangan sekali-kali berfikir mereka berani menyampaikan karena mereka sudah benar-benar baik 100%. Mereka sama seperti dirimu. Belajar. Bedanya, mereka mempunyai kesempatan untuk mengenal belajar lebih dulu. Dan kini mereka memperkenalkannya kepadamu. Kembali lagi pada kondisi manusia yang berbeda. Ibaratnya, mungkin gizi yang kita dapatkan sama tapi kebermanfaatan bagi tubuh itu bergantung kita mencerna, menyerap dan mendistribusikannya. Dan itu sangat dipengaruhi oleh organ tubuh kita. Sehat atau sakitkah?
Mungkin ilmu yang kita dapat sama, kesempatan belajar kita juga sama, tapi hidayah itu hanya Allah sampaikan pada orang-orang pilihan. Inilah yang membedakan akankah ilmu itu hanya menjadi teori atau masuk ke hati dan teraplikasi. (semoga kita termasuk orang-orang pilihan itu)

Trus, kita g boleh kecewa?
Kecewalah… kecewalah sebanyak-banyaknya. Konsekuensinya semakin banyak kekecewaan, semakin banyak tuntutanmu atas kebaikan orang lain maka target kebaikan untuk dirimu harus lebih tinggi daripada tuntutanmu terhadap orang lain. Fairkan? Disinilah kecerdikan kita berperan. Bagaimana memanfaatkan kondisi buruk untuk menjemput kebaikan. Masih percayakan bahwa semua yang Allah hidangkan itu tidak lain hanyalah kebaikan? So, let’s go!

Hemmm… takut berubah…
Husttt… orang kok takut masuk syurga!
Terkadang tuntutan-tuntutan dari saudaramu lebih besar dari apa yang engkau mampu. Apapun keadaannya jangan melakukannya hanya untuk orang lain, hanya karena tuntutan-tuntutan itu. Sehingga tanpa sadar kau akan menjadi manusia bermuka dua. Baik dihadapan orang lain tapi tidak bisa mempertanggungjawabkan kebaikan itu ketika sendiri. (Ini yang sering buat saudara kita akhirnya kecewa). Padahal, pernahkah kita temukan diri kita benar-benar sendiri? (Allah Maha Melihat). Bersabarlah dalam berproses karena berubah itu tidak sekedar memanjangkan jilbab, tidak sekedar selalu memperlihatkan senyum. bukan juga pandai beracting lemah lembut. Bawalah diri kita pada dimensi yang lebih tinggi. Bagaimana setiap apa yang kita lakukan mempunyai nilai di hadapan Allah. Kebaikan kita pada sesama belum tentu membawa kebaikan di hadapan Allah (Waspadai sombong, riya, ujub, dan sum’ah). Tapi, kebaikan kita yang tertuju pada Allah pasti akan membawa kebaikan kepada sesama.
Wallahu a’lam
(Ditulis saat teman-teman mungkin sedang menunggu kedatangan saya di sudut yang lain. Forgive me?! Akan saya coba kembali normal secepatnya.)

Bola Oh Bola...


Oleh Inung Pratiwi
Teman Saya: "nung..aku nnton bola. mmm..."
Saya: "kok g kedengeran?"
Teman saya: "msih iklan..ntr bru heboh lg"
Saya : "baiklah"
Teman saya: "msih berat utk ga nnton nung"
Saya: "saya cukup paham. jadi jangan melihat saya yang bisa tenang di kamar"
Teman saya: "mksi marin"
Saya: "Yuhuu.... habis itu harus nyesel lho ya?! Karena malaikat mencabut nyawa kita lebih cepat dari satuan waktu terkecil.
Teman saya: "...................."
(original messages)

Teman saya ini sangat hobi dengan sepak bola walaupun dia dilahirkan sebai makhluk yang seharusnya senang melihat pagelaran tari atau demo resep masakan. Jam berapa pun ada pertandingan sepak bola, dia akan nonton. (agak lebay. sebenernya dia suka ketiduran).
Adakah yang salah dengan onton bola? Tentu saja. Minimal 2 x 45 menit plus 10 menit waktu kita habis sia-sia. bisa buat melahap 2 juz tuh.
"tapikan bisa buat refreshing. seru!"
Saya yakin sanggahan ini akan saya dengar dari orang yang benar-benar maniak bola. saya juga mau ngeles ah..
"Masak? bukannya bikin stres ya? selama 2 x 45 menit pikiran kita tegang menyaksikan 22 orang memperebutkan sebuah bola dan menanti ke gawang mana dia akan masuk. tambah stres lagi saat kenyataan mengharuskan kita merasakan kekecewaan yang teramat sangat karena tim yang kita dukung kalah."
"Kamu tidak akan bisa mengerti sensasi yang luar biasa saat menonton bola."
"Karena kamu memaklumkan dirimu untuk menikmatinya."
 Sudahlah tidak akan habis perdebatan ini jika di teruskan karena kita berbeda. bukan karena aku hamba yang taat sedang para pencinta bola itu hamba yang membangkang. sama sekali bukan. perbedaan itu terletak pada start kita.
Saya orang yang g suka bola. Tanpa perjuangan pun saya bisa menjauhinya. Bahkan tertarik pun tidak. Jadi, apakah ini nilai plus untuk saya? tentu saja Allah yang memberi kemudahan.
Untuk para pecinta bola. lihatlah... betapa ini adalah kesempatan besar untuk berjuang melawan keinginan yang dibisikkan oleh nafsu. Bukankah ini nilai Plus? (asal jangan malah terbawa untuk menikmatinya aja).
Berhentilah berpatok pada hasil. lihatlah proses yang mungkin dilalui sampai berguling-guling dan terjungkal-jungkal.
Mungkin akan kita temui nilai dua orang itu sama 90. Tapi apa artinya nilai 90 kalau tanpa belajar pun dia bisa mendapatkannya. bandingkan dengan orang kedua yang harus mengangkat nilai yang awalnya 30 menjadi 90. sungguh keberhasilan yang luar biasa bukan?
Setiap manusia diberi ujian pada sisi yang berbeda. kekurangan dan kelebihan yang berbeda pula. di sinilah kita dituntut untuk bijak.
Teman... jangan posisikan aku pada posisimu. Aku pun tak bisa mengharuskanmu berada di posisiku. Karena keadaan kita berbeda. fungsi kebersamaan kita adalah bagaimana kita saling mengambil hikmah untuk berjalan beriringan  menuju kebaikan yang sama. Mardhatillah....(akhir-akhir ini sering dengar kata ini dari teman. kebawa juga di tulisan)
(tulisan ini bukan bermaksud untuk memaklumi orang-orang yang suka nonton bola dan nggak merasa rugi melakukannya)

Senin, 31 Oktober 2011

Paulo Freire dan Liberasi Pendidikan


Oleh Wira syafutra
Setiap manusia sangat membutuhkan apa yang namannya pendidikan. Pendidikan mengajarkan kepada manusia bagaimana beriteaksi dengan manusia lain lebih mudah. Pendidikan membantu manusia untuk mampu beradaptasi dengan  lingkungan luar. Sementara itu, usia pendidikan sendiri sama dengan manusia itu, berarti manusia akan mengalami proses pendidikan pada saat ia lahir, tentunya tanpa ia sadari. Apalagi, kalau di secara historis, pendidikan telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada dimuka bumi.[1]
Adanya pendidikan adalah setua dengan adanya kehidupan manusia itu sendiri. Tentunya manusia itu akan membentuk budaya dan peradaban dimuka bumi dan itu sifatnya dinamis, selalu mengalami perkembangan. Dan hal tersebut (perkembangan peradaban) mempengaruhi perkembangan pendidikan pula. Dengan perkembangan peradaban manusia, berkembang pula pendidikan baik itu bentuk, isi bahkan termasuk penylenggaraannya. Tentunya hal ini selaras dengan perkembangan atau kemajuan manusia dalam pemikiran dan ide-ide tentang pendidikan.
Di Indonesia tokoh fenoemenal yang tertulis dalam sejarah Indonesia, pendidikan khususnya yakni Ki Hajar Dewantara, mengartikan pendidikan sebagai tuntutan hidup tumbuhnya anak. Adapun maksudnya pendidikan itu ialah, menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, ialah agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.Dan menurut Driyakarya, pendidikan merupakan usaha atau proses pemanusiaan manusia muda.[2]
Bisa diambil suatu garis besar terhadap pendidikan, pendidikan akan membentuk kepribadian manusia yang baik, dalam arti manusia tersebut benar-benar menjadi hakikatnya manusia dan tidak mengalami dehumanisasi. Dalam sejarah, dalam konteks-konteks nyata serta objetif, pemanusiaan maupun dehumanisasi merupakan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia sebagai makhluk yang belum utuh, yang sadar akan ketidak-utuhan dirinya.
Meski keduanya merupakan alternatif, hanya pemanusiaan yang menjadi fitrah manusia. Fitrah ini selalu di injak-injak, namun justru tiap kali ia diinjak ia makin diteguhkan.[3] Dehumanisasi sendiri merupakan keadaan dimana manusia itu mengalami suatu kondisi yang menempatkan manusia itu dalam keadaan kurang manusiawi karena adanya pihak yang merampas kemanusiawiannya dan cita-cita untuk menjadi manusia utuh telah dihambat. Dehumanisasi juga merupakan produk tatanan yang tidak adil yang melahirkan kekerasan para penindas yang membuat kaum tertindas menjadi kurang dari manusia.[4]Untuk itulah diperlukan sebuah upaya menghapus semua bentuk penindasan.
Untuk menaklukkan situasi penindasan, pertama-tama manusia harus mengenali sebab-musababnya secara kritis, hingga ia dapat menciptakan situasi baru yang memungkinkan usaha mencapai keutuhan kemanusiaan. Tetapi, kaum tertindas yang telah menyesuaikan diri dengan stuktur dominasi yan menenggelamkan mereka, yang sudah pasrah, takkan bisa berjuang demi kebebasan selama mereka merasa tak mampu menghadapi risiko-risiko yang pasti ada dalam perjuangan semacam itu. Hal itu tidak diakibatkan oleh pendidikan yang masih “tragis” bagi kaum tetindas dan mesti diperhitungkan. Pendidikan harus dilaksanakan dengan bukan untuk, kaum tertindas ( secara individual maupun kelompok) dalam perjuangan tiada henti untuk meraih kembali kemanusiaan mereka. Pendidikan ini menjadikan penindasan beserta sebab-musababnya sebagai objek renungan kaum tertindas, dan dari situ mereka terlibat dalam perjuangan membebaskan diri mereka.[5]
Paulo Freire memandang bahwa perlunya sebuah pendidikan yang kritis  untuk menjadi pedoman, landasan, pijakan, dan tolok ukur bagi manusia dalam melihat fenoma yang ada, apalgi sebuah bentuk penindasan, tentu hal itu akan terjadi pada suatu kondisi yang tidak berimbang antara satu individu dengan individu lain maupun antara satu kelompok dengan kelompok lain, maka yang terjadi adalah penindasan. Bagi kaum tertindas akan mengalami dehumanisasi, maka dari itu diperlukan sebuah upaya sadar dan nyata untuk beranjak dari masa suram tersebut, alternatif yang paling cocok ialah pendidikan yang lebih baik dan perlunya liberasi pendidikan yang ujungnya akan membentuk manusia seutuhnya. Jadi, bukan hanya sebatas pendidikan “formal” belaka sebagai alat politisasi belaka yang hanya akan membuat manusia tetap berada pada manusia yang belum utuh bahkan jauh lebih parah apabila pendidikan dijadikan alat “penindasan” kemanusiaan.
Tentunya hal demikian akan berjalan dengan baik, apabila seperangkat sistem yang mengatur juga beroperasi dengan maksimal dan saling mendukung satu sam lain. Apabila kita melihat pada ranah lembaga pendidikan, tugas pendidik untuk mencarikan cara tepat bagi peserta  didik untuk belajar, dan fungsi yang paling baik yang bisa ditawarkan kepada peserta didik, sehingga mereka dapat memeranakan diri sebagai subjek belajar selama mengikuti pendidikan untuk memberantas buta huruf misalnya. Pendidikan harus secara konsisten menemukan dan terus  mencari cara-cara yang memudahkan peserta didik untuk melihat objek yang harus diketahui dan akhirnya dipelajari, sebagai sebuah masalah. Dalam hubungan antara pendidik dan peserta didik yang dimediatori oleh objek pegetahuan haruslah dengan di singkap, faktor yang paling penting adalah perkembangan adalah sikap kritis terhadap objek, bukannya apa yang diajarkan pendidik tentang objek. Maka ketika pendidik dan peserta didik sama-sama mendekati objek untuk dianalisa guna menemukan maknanya, mereka manemukan informasi yang benar untuk mendapatkan hasil analisa yang tepat. Mengetahui (to knows) tidak sama dengan menebak (to guees); informasi itu hanya akan bermanfaat jika kita dapat menangkap akar permasalahannya. Tanpa rumusan masalah yang tepat, maka proses mencari informasi bukanlah momentum belajar yang tepat dan proses tersebut hanya akan menjadi proses pengalihan informasi dari pendidik kepada peserta didik.[6]
Kembali lagi pada pendidikan (kaum tertindas), pendidikan yang mereka alami dijalankan oleh kemurah-hatian otentik, kedermawanan humanis ( bukan humanitarian), menampilkan diri sebagai pendidikan manusia. Pendidikan yang berawal dari kepentingan-kepentingan egoistis para penindas yang membuat kaum tertindas jadi objek-objek hunatiraianisme, melestarikan dan mengedepankan penindasan. Pendidikan seperti itu adalah alat mendehumanisasikan manusia. Inilah sebebnya pendidikan kaum tertindas tak bisa dikembangkan atau dipraktikkan oleh kaum penindas.[7] Selain itu pula, penerapan pendidikan yang membebaskan memerlukan kekuatn politik, sementara kaum tertindas tidak memiliki itu. Itulah mengapa, pendidikan erat kaitannya dengan politisasi. Sistem pendidikan menjadi sentralistik dan bahkan otoriter, pihak penguasa memiliki kekuatan untuk mengatur semuanya. Ya kalau penguasa (pemerintah) benar-benar memahami betapa pentingnya pendidikan, maka ia akan mencurahkan perhatian yang lebih kepada pendidikan yakni liberasi pendidikan. Jadi, artinya tidak ada unsur politik dalam pendidikan yang memberatkan manusia dalam menjalani pendidikan. Bukan berarti pemerintah “lepas tangan” terhadap perkembangan pendidikan, namum lebiih kepada bagaimana otoritas pemerintah tidak mutlak dan absolut serta bebas dari unsur politisasi.
Karena apabila dunia pendidikan sudah tercermar dengan aroma politisasi, maka akan berdampak buruk pada generasi muda (peserta didik). Mulai dari pusat, sampai ke tingkat birokrasi sekolah akan diwarnai saling menguntungkan kepentingan pribadi. Misalnya, dalam sebuah sekolah (apapun jenjangnya) menjadi sebuah pasar pengetahuan; profesor menjadi seorang ahli yang menjual dan mendistribusikan pengetahuan yang telah di paket, sedangkan peserta didik menjadi klien yang membeli dan mengonsumsinya. Sekali lagi, yang penting bagi pendidik dan peserta didik adalah berusaha untuk menghindar dari jebakan birokrasi karena sesungguhnya birokrasi hanya akan menghambat kreatifitas dan membentuk peserta didik menjadi sekadar orang yang pandai mengulang-ulang kata-kata yang klise.[8]Makanya pendidikan harus lebih menekankan pada konsep pemanusiaan yang murni bukan hanya pengetahuan manusia itu “apa”, tapi “untuk apa”.
Jadi, memang kebanyakan sistem pendidikan (pada zaman skarang) Indonesia khususnya, hanya menekankan pada aspek kognitif saja, sedangkan psiko-motorik dan afektif masih minim, apalagi psiko-motorik memang sangat sedikit pendidik yang sampai ke arah sana karena orientasi mereka hanya menajdikan peserta didik sebagai ‘ilmuan”, bukan orang yang “berilmu”, maksudnya out put yang dihasilkan hanya membentuk orang-orang yang  berfikir secara rasional tanpa menggunakan hati. Otak dijadikan otoritas utama dengan menomerdukan hati, bukan berarti pendidikan itu tidak menggunakan otak, hanya persentase penggunaan hati sangat minim. Ya, kita lihat saja, untuk mata pelajaran mengenai keagmaan hanya satu kali dalam seminggu, berbeda dengan disiplin ilmu yang lain.
Ya, walaupun, konsep pendidikan Paulo freire ini lebih kepada bagaimana usaha manusia dari kaum terindas untuk bangkit dari ketertindasannya itu, ya bisa dibilang suatu revolusinerisasi dari kaum tertindas melalui pendidikan, hal tersebut beliau lihat dari konteks pada wilayah yang sedang menglami penjajahan, bukan berarti pada zaman sekarang hal tesebut tidak relevan lagi, justru yang beliau katakan masih terlihat, walaupun bukan dalam bentuk formal (penjajahan).
Beliau juga menyatakan, faktor yang paling penting dalam dunia pendidikan ini bukanlah  belajar membaca dan menulis, yang bisa jadi proses tersebut tidak disertai dengan penglihatan yang kritis terhadap konteks sosial mereka. [9] Apa yang beliau katakan memang terjadi pada dunia pendidikan, khususnya Indonesia, hanya mengajarkan pengetahuan dari itu parahnya lagi terkadang peserta didik hanya menyalin apa yang ada di  buku. Peserta didik hanya identik dengan kelas, buku, pena, dan guru. Peserta didik tidak diaktualkan dalam konteks sosial yang ada.
Jadi, seyogyanya, guru (pendidik) dan murid (peserta didik), sama-sama bertindak dalam dan bertindak terhadap kenyataan, sama-sama menjadi subjek-subjek, bukan hanya dala tugas menyingkap kenyataan, supaya mengetahuinya secara kritis, namun juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan tadi. Selagi mereka memperoleh pengetahuan tentang kenyataan melalui reungan dan tindakan bersama, mereka menemukan diri sebagai pencipta-pencipta yang permanen.[10] Dengan bagitu, maka tidak akan ada lagi peserta palsu, melainkan peserta yang terlibat penuh dengan komitmen terhadap pemanusiaan.


[1] Dwi Sisiwoyo dkk, Ilmu Pendidikan, UNY Press: Yogyakarta, 2008, Hal;15
[2] Ibid,,,Hal; 18-19
[3] Paulo Freire dkk,Menggugat Pendidikan; Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, Cetakan ke-VI, 2006, Hal: 434-435
[4] Ibid,,Hal: 435
[5] Ibid,,,Hal; 438-439
[6] Paulo Freire,Pendidikan Sebagai Proses, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, Hal: 10-11
[7] Opcit,,,Paulo Freire dkk, Hal:444
[8] Opcit,,,Paulo Freire, Hal: 13
[9] Ibid,,,Hal:29
[10]Opcit,,,Paulo Freire dkk, Hal: 457

Indonesia Pimpin ASEAN 2011: Sebuah Politik Identitas


Oleh Wira Syafutra
Pada dasarnya tujuan suatu negara melakukan hubungan internasional adalah untuk memenuhi kepentingan nasionalnya yang tentunya tidak dimiliki di dalam negeri. Makanya untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya itu, diperlukan suatu kerja sama untuk mempertemukan kepetingan nasional antarnegara. Dalam nelakukan hubungan kerja sama internasional setidaknya harus memenuhi dua syarat utama. Pertama, masing-masing negara harus menghargai kepentingan nasional masing-masing anggota yang terlibat. Kedua, adanya keputusan bersama dalam mengatasi setiap persoalan yang timbul, tentunya dengan komunikasi dan komitmen diantar anggota secara berkesinambungan. [1] Dan yang paling penting dan utama menurut saya ialah bagaimana menunjukkan identitas suatu bangsa( dalam ranah domestic) maupun identitas yang di bangun dalam hubungan kerja sama dalam wadah bersama dan memiliki kesamaan.
Sejak Perang Dunia II berakhir, kerja sama regional [2] merupakan kerja sama yang lebih mudah dilakukan untuk menuju cita-cita yang terkandung dalam globalisasi yaitu sebagai bahan inspirasi yang ideal yang selalu jauh dari kenyataan politik internasional. Kerja sama regioanal ini juga dilakukan oleh beberapa negara Asia Tenggara dengan mendirikan  ASEAN (Association of South East Asian Nations) pada 8 Agustus 1967 yang dideklarasikan di Bangkok yang terkenal dengan “Deklarasi Bangkok”. Pada awalnya hanya ada lima anggota ASEAN yakni Indonesia yang di waklili oleh Adam Malik, Malaysia oleh Tun Abdul Razak, ada Thailand yang di wakili oleh Thanat Koman, lalu ada Filipina yang diwakili oleh Narcisco Ramos, dan ada Singapura oleh Rajaratnam. Kelima negara diatas yang mendirikan ASEAN dan juga menandatangani Deklarasi Bangkok.[3]
Tentunya apabila telah disepakati akan adanya suatu wadah atau organisasi makan aka nada maksud dan tujuan yang hendak dicapai dalam mendirikan organisasi tersebut. Entah itu meningkatkan hubungan antar anggota yang satu dengan yang lain dalam berbagai latar belakang, atau ingin membangun sebuah solusi baru dari fenomena yang sedang terjadi maupun telaj terjadi bahkan yang akan terjadi. Akan ada aturan, tata tertib, struktur, yang akan menjadi landasan bergerak lebih terarah dan jelas.
Sama saja dengan pembentukan organisasi ASEAN, tentu memiliki maksud dan tujuan yang hendak dicapai, seperti yang tercantum dalam Piagam ASEAN pada BAB I (Tujuan dan Prinsip), Pasal I (Tujuan) ayat I yang berbunyi, “memelihara dan meningkatkan perdamaian, dan Stabilitas serta memperkuat nilai-nilai yang berorientasi pada perdamaian di kawasan”, dan ayat II yang berbunyi, “meningkatkan pertahanan kawasan dengan memajukan kerja sama politik, social, ekonomi, budaya yang lebih luas”, dan lain sebagainya.  Dilihat dari kedua ayat di atas sudah jelas bahwa tujuan ASEAN adalah dalam upaya peningkatan di segala bidang yang berorientasi pada perdamain, memang apabila dilihat dari sejarahnya ialah empat dari anggota pertama ASEAN bekas negara jajahan.
Mengenai struktur dalam organisasi ASEAN yang waktu itu (pertama kali berdiri), terdiri dari Annual Ministreal Meeting (AMM), Standing Committee (SC), Permanent Committee (PC), Ad-Hoc Committee (AC), dan National Secretariats di setiap negara anggota. Sampai KTT Bali 1967, AMM merupakan instansi tertinngi ASEAN yang harus diadakan setiap setahu sekali secara bergilir di negara anggota. Struktur yang dibuat atau ditetaptapkan  oleh Deklarasi Bangkok 1967 membuat jalannya organisasi sangat lambat. Untuk itu diperlukan reorganisasi menyeluruh untuk mengatasi kemacetan-kemacetan yang timbul yang disebabkan oleh struktur organisasi yang dipakai. Untuk itu, dalam KTT Bali pada 1976, di  tetapkan struktur baru ASEAN, pada strukutur yang baru yang merupakan instansi tertinggi ialah KTT[4]. Seperti yang tercantum dalam Piagam ASEAN BAB IV (Badan) Pasal 7 ayat 2 (a); merupakan badan pengambilan kebijakan tertinngi ASEAN.
Sedangkan strukturnya yang baru seperti berikut, yang pertama atau tertinggi itu seperti yang tercantum dalam Piagam ASEAN yakni KTT diikuti dengan Dewan Koordinasi ASEAN, Dewan Komunitas ASEAN, Badan-badan Sektoral tingkat Menteri, Komite Wakil Tetap, Sekretaris Jenderal ASEAN, Sekretaris Nasional ASEAN, Badan Ham ASEAN, Yayasan ASEAN, dan terkahir Entitas yang berhubungan dengan ASEAN.[5]

POLITIK INDONESIA: Identitas
ASEAN kini berjumlah 10 anggota (negara).  Piagam ASEAN sendiri di berlakukan pada tanggal 15 Desember 2008 setelah semua anggota ASEAN menyampaikan ratifikasi kepada Sekretaris Jenderal[6] ASEAN. Peresmian mulai berlakunya Piagam ASEAN tersebut dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di secretariat ASEAN. Untuk Indonesia, pemberlakuan Piagam ASEAN ini di sahkan melalui UU RI Nomor 38 Tahun 2008 tentang pengesahan Piagam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Charte Association of Southeast Asian Nation)[7].
Pada KTT ke-16 ASEAN bulan April 2010 si Hanoi, para Pemimpin telah menyepakati ataupun  menyetujui bahwa untuk kepimpinan ASEAN tahun 2011 ialah Indonesia. Tahun 2011 dianggap sebagai tahapan penting bagi ASEAN guna memperkokoh komitmen politis agar semakin menguatnya landasan dalam mengimplementasikan secara penuh Cetak Biru Politis-Keamanan, Ekonomi, dan Sosial-Budaya menuju komunitas ASEAN 2015. Maka darai itu, Indonesia yang memegang tampuk kepemimpinan diarahkan pada beberapa capaian implemnentasi Cetak Biru Komunitas ASEAN yang fundamenatal untuk memperkuat kesatuan ASEAN. Indonesia memiliki peranan yang sentral dalam ketercapaian pengimplemintasian dari Cetak Biru ASEAN tersebut.[8]
Selain itu, Kementrian luar negeri Indonesia dalam kepemimpinan ASEAN 2011 memprioritaskan tiga aspek yakni, pertama, memajukan upaya pencapaian komunitas ASEAN. Kedua, memelihara tatanandan situasi  wilayah yang kondusif bagi upaya pencapaian tujuan pembangunan. Ketiga, menggulirkan pemnahasaan perlunya Visi ASEAN  pasca 2015 yang bertumpu pada peran masyarakat ASEAN  dalam masyarakat dunia. Lalu satu usulan dari delegasi Indonesia pada sidang ASEAN Inter-Parlementary Assembly (AIPA) yang ke-3 yang dilaksanakan di Kamboja. Yakni Dr. Marzuki Ali (Ketua DPR) yag sekaligus menjadi pimpinan sidanng kala itu, ia menyatakan dalam pidato resminya,  ia mendorong penggunaan Bahasa Indonsia sebagai bahasa resmi dalam sidang parlemen ASEAN tersebut.[9] Ia juga berpendapat, Indonesia menghargai nilai-nilai bahwa demokrasi dibangun melalui kearifan local. Sehingga wajar jika Indonesia berpendapat  bahwa harus ada satu bahasa yang bisa mempersatukan semua warga  ASEAN.
Hal ini tentu terkait dengan sebuah identitas bangsa serta kearifan local yang di bangun oleh luhur. Yang semestinya kita jaga dan lestarikan bahkan di kancah Internasioanl sekalipun. Salah satunya ialah bahasa, sebagai sebuah identitas. Karena bahasa merupakan sebuah alat untuk saling menghubungkan antara satu ke yang lainnya, sama akan halnya dengan bahasa Indonesia yang bila dirunut melihat sejarahnya bahwa bahasa Indonesia merupakan perkembangan bahasa Melayu (Riau) yang juga menjadi bahasa persatuan atau lingua franca Asia Tenggara.` Hingga dalam perkembangannya, sejalan dengan berjalannya sejarah bahasa di Indonesia (Melayu) sejalan dengan wawasan Negara-bangsa modern.[10]Hal senada juga disampaikan oleh H.A.R. Tilaar, bahwa peranan bahasa Indonesia yang mempersatukan suku bangsa Indonesia sebagai lingua franka untuk membentuk identitas bangsa Indonesia. Bahasa menunjukkan bangsa.[11]
Sekiranya apa yang sedang di planingkan oleh Indonesia dala kepemimpinan ASEAN dengan mengusulkan bahasa resmi ASEAN adalah bahasa Indonesia bias dikatakan sebuah politik Identitas Indonesia dalam kancah perpolitikan serta hubungan internasionalnya.



[1] Sjamsumar Dam Riswandi, Kerja sama ASEAN; latar Belakang, Perkembangan, dan Masa Depan ASEAN, Ghalia Indonesia: Jakarta, 1995, Hal: 15-16
[2] Suatu kerja sama yang dilakukan oleh negara-negara yang sama-sama terletak di wilayah tertentu, maka bentuk kerja sama demikian di sebut dengan kerja sama regional. Tidak hanya itu, biasanya kerja sama regional terbentuk selian adanya ikatan  goegrafi, tujuan bersama, serta nasib yang sama, seperti yang tercantum dalam pembukaan dalam Piagam ASEAN,”Mengingat adanya kepentingan-kepentingan bersama dan saling ketergantungan antar rakyat dan negara-negara anggota ASEAN yang terikat oleh geografi, tujuan bersama, dan nasib bersama,”.
[3] Ibid,,,Hal: 57
[4] Ibid,,, Hal: 59
[5] ASEAN SELAYANG PANDANG, Edisi ke-19, Tahun 2010, Hal: 14-15
[6] Dalam Piagam ASEAN,Pasal 11 ayat 1, menyatakan, Sekretaris Jenderal di angkat oleh  KTT ASEAN untuk masa jabatan lima tahun yang tidak dapat di perbaharui, yang dipilih dari warga negara dari Negara-negara Anggota ASEAN berdasarkan rotasi secara alfebetis, dengan pertimbangan integritas,kemampuan dan pengalaman professional, serta kesetaraan jender.
[7] ASEAN SELAYANG PANDANG, Edisi Ke-19, Tahun 2010, Hal: 5
[8] Ibid,,, Hal: 234
[9] detikNews.com
[10] Nurkholis Majid, Indonesia Kita, PT. Gramedia Pustaka Umun: Jakarta, 2004, Hal: 35-36
[11] H.A.R. Tilaar,MENGINDONESIA; Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari perspektif Ilmu Pendidikan, RinekaCipta: Jakarta, 2007, Hal: 39

Laman