Senin, 12 Maret 2012

Lollipop

Oleh Witantri Swandini
Alkisah ada sebuah tempat yang bernama lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati jalan setapak beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa.

Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas rangselnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.

Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu Lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.”

Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tasnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan!” Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. “Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil- manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.” “Kenapa kamu memanggil saya?” Tanya Bob. “Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!”

Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. “Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tasnya. Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana
saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.” Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali.” Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia. Pernahkah anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jawabannya kebanyakan, “Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah menikah…nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya… nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… “
Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang’. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti’ bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti’ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah
Sampai di masa ‘nanti’ bahagia itu.

Ritme hidup yang sangat cepat… target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu… tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan. Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon di depan mata, pada saat kita mendengarkan cerita lucu dari kawan, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan sekresek beras dalam acara bakti sosial; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah orang-orang disekitar kita. Bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah.

Selasa, 06 Maret 2012

Kematian Hati (Alm. Ust. Rahmat Abdullah)

Oleh Diar Rosdayana
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku.”

Kamis, 01 Maret 2012

Nasehat Itu Terkadang Terasa Pahit Tapi Manis Pada Akhirnya

Oleh Arief Setiyadi
Sahabat-sahabat semua
Tak terasa sudah sekitar enam pekan saya berbagi dengan rekan-rekan semua. Banyak pelajaran dari tulisan-tulisan yang saya buat dan komentar, kritik atapun saran dari rekan-rekan. Alhamdulillah hari ini, pas di pekan ke enam jumlah pengunjung blog “Mutiara kehidupan” sudah mencapai 9180. Angka yang mungkin cukup tinggi untuk sebuah blog yang baru terbit tanggal 18 januari 2012.
Saya merasa sangat bahagia bisa kenal dan saling berbagi ilmu dengan rekan-rekan semua. Merasa mendapatkan saudara baru yang sama-sama mempunyai semangat untuk senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Saudara yang saling menerima setiap saran, kritik dan nasehat dari saudaranya yang lain. Karena kita sama-sama sadar akan keterbatasan ilmu yang kita miliki, sehingga sikap lapang dada dan menghargai setiap perbedaan menjadi kunci untuk menerima sebuah kebenaran.
.....
Sahabat-sahabat semua
Yang selalu ku jadikan spirit khusus dalam setiap goresan pena yang aku torehkan
Bersyukur kepada Allah SWT, atas nikmat memahami setiap ayat-ayat yang nampak jelas maupun tersirat dalam proses hidup yang kita jalani. Menjadi kesempatan yang istimewa bagi kita semua untuk bisa memahami dinul islam. Menjadikannya sebagai minhajul hayyah (jalan hidup) dalam setiap langkah yang berpijak. Menjadikanya obat saat jiwa dan raga rapuh tak berdaya.  Menjadikanya penyejuk hati dan penghilang penat disaat beban hidup mulai menghimpit.
.....
Sahabat-sahabat semua
Maaf jika dikala mengabarkan kebenaran terasa menganggu kedamaian hatimu
Kondisi hati yang tak selalu bahagia. Kondisi kehidupan yang tak selalu mudah dan kondisi suasana yang tak terlalu mendukung terkadang membuat sebuah kebenaran tak dapat diterima dan di pahami dengan baik. Aku pun tak dapat memungkiri semua itu, karena pada hakikatnya itulah sunatullah kehidupan. Sekali lagi maaf jika mungkin dalam proses itu terselip sebuah rasa sakit dan menyayat hati.
.....
Sahabat-sahabat semua
Maaf jika dikala menasehati terasa menggurui
Tak pernah diri ini merasa lebih baik dari orang lain. Tak pernah pula menganggap engkau buruk di hadapanku. Yang ada dalam benaku kita itu sama, sama dalam banyak hal. Spirit untuk belajar dan menimba ilmu, spirit untuk memperbaiki diri dan spirit untuk senantiasa berbagi. Tak pernah pula terlintas dalam setiap kata terucap dan tulisan tergores untuk menggurui rekan-rekan semuanya. Menganggap kita lebih mampu dan lebih layak menjadi panutan.
......
Sahabat-sahabat semua
Maaf jika dikala diskusi terasa menghakimi
Tak pernah terbesit dalam diri ini untuk melukai atau bahkan menghujat setiap pendapat dan cara pandang yang kau sampaikan. Mungkin karena kedangkalan ilmu yang saya miliki yang membuat kebenaran itu sulit di terima. Atau mungkin masih banyak sikap ria dan ujub dalam diri kita sehingga membuat kebenaran terlihat samar.
.....
Sahabat-sahabat semua
Maaf jika di dalam berinteraksi sering menyakiti hati
Terkadang karena perbedaan sudut pandang pemahaman itu menjadi berbeda. Terkadang karena kekurangdewasaan perbedaan itu tak dapat kita maknai. Sehingga seolah perbedaan itu membuat kita jauh dan membenci satu sama lain. Padahal perbedaan itu adalah salah satu bentuk ramat Allah (kasih sayang Allah) yang memberikan begitu banyak jalan menuju surga-Nya.
......
Waktu itu terus berjalan menuju titik akhir
Akhir dari segala kehidupan sesaat dunia
Tak akan dapat berhenti apa lagi kembali kemasa lalu
Senantiasa berjalan dan tak peduli berapa banyak manusia yang terlambat untuk sadar
.....
Sadar diri siapa dirinya dan apa tujuan hidup di dunia ini
Sadar diri siapa yang menciptakannya dan mau apa hidup di dunia ini?
Sadar mana jalan kebaikan yang akan membawa keselamatan
Sadar mana jalan keburukan yang akan membawa kedalam lembah kenistaan
.....
Itulah hakekat kehidupan
Telah nampak dengan jelas mana jalan kebaikan dan mana jalan kesesatan
Sehingga hanya diri ini yang bisa menentukan mau memilih jalan yang mana
Semuanya mengandung konsekwensi
.....
Akan tetapi ketika kita memilih jalan kebaikan
Niscaya kebahagiaan hakiki dan kasih sayang Allah akan kita dapatkan
Namun jika kita memilih jalan keburukan
Niscaya hanya kebahagiaan semu dan murka Allah yang akan kita dapatkan
.....
Kini semua terserah padamu
Hidupmu adalah tanggung jawabmu
Sementara aku pun tak tahu esok hari masih hidup atau tidak
Sehingga hanya goresan pena ini yang aku titipkan sebagai amal kebaikanku di dunia
.....
Amal yang semoga bisa menjadi pembelaku
Saat semua lisan terkuci dan setiap anggota tubuh bersaksi
Tak ada yang dapat menolong atau membantu
Karena semua orang saat itu hanya bisa mempertanggungjawabkan dirinya sendiri
.....
Sobat-sobat semua
Tak ada kata terlambat untuk bertobat
Seperti halnya tak ada kata terlambat untuk menciptakan sebuah karya
Tak perlu kau membuat bangunan megah menjulang tinggi tapi tak berpenghuni
Atau masjid dengan seribu menara yang menghiasinya tapi tak terisi
Tapi cukuplah kau membuat sebuah tulisan yang mengispirasi
 
Dalam blognya: http://riefalfatih.blogspot.com/2012/02/nasehat-itu-terkadang-terasa-pahit-tapi.html?spref=fb

Jomblo Ga Gitu Dehh...

Oleh Diar Rosdayana
Jomblo. Satu kata yang tak asing terutama di kalangan remaja. Jomblo adalah satu kondisi ketika seseorang tidak punya pasangan. Namun dalam perjalanannya ketidak-punya-pasangan ini sering jadi konotasi negatif, bahwa Sang Jomblo adalah orang yang tidak laku, ditinggal pacar dan punya nasib yang mengenaskan. Lalu muncullah berbagai ungkapan buat si Jomblo, seperti: “Hari gini jomblo..??”, “Ngapain jomblo terus..?”, “Mau jomblo sampe bulukan..??”, “jomblo niye..”, “eh, kamu jomblo po..?! Kasian..”. Definisi jomblo pun semakin sempit bahwa Jomblo hanya sebutan bagi para pecundang cinta (halah), yang tidak pandai membina hubungan, tidak laku atau bahkan disebut h*m*s*ks (na’udzubillah). Kalau sudah seperti ini bisa kalang kabut tuh si Jomblo, sebisa mungkin dia menghindari predikat Jomblo dalam dirinya dan menyibukkan diri mencari pasangan.

Padahal, kenyataan mengatakan: JOMBLO GA GITU DEHH… (Iya po..?!), Iya noh. Jomblo bukanlah dampak (buruk) dari kandasnya cinta (halah) melainkan sebuah pilihan (prinsip hidup) dan harus ditempatkan seperti ini agar menjadi objektif. Jomblo akan menyakitkan jika itu dianggap sebagai akibat, maka perluaslah perspektif tentang jomblo. Jomblo harus dijadikan sebuah pilihan.

Saya yakin jika mengambil dari perspektif agama (Islam) semuanya tentu faham bagaimana hukum pacaran, dampak negatif dan keburukannya. Sebenarnya secara sadar atau tidak, hati nurani pun menolak hal ini, dengan salah satu indikator bahwa beberapa orang mikir 2 kali saat mau pacaran di bulan Romadhon (Iya po..?! ga juga), ga pernah ada orang pacaran di dalam masjid. Kita pun kadang nyeleneh: “Puasa kok pacaran..??”. ini artinya pacaran itu sendiri sudah punya pemahaman negatif dalam hati yang terdalam. Lepas dari agama membenarkan atau tidak. Kecuali hatinya memang sudah mati.

Nah, sejatinya ketika jomblo itu jadi sebuah pilihan, maka pencarian pasangan pun tentu tidak jadi prioritas. Jomblo itu bukan tempo persinggahan dari satu pasangan ke pasangan lain, tapi jomblo adalah pelepasan dan pembebasan, atau sebuah proses menuju Freedom Flotilla, menuju kebebasan sebenarnya. Tanpa banyak aturan dari pacar, duit awet dan kita pun tidak disibukkan buat mikirin anak orang. Bebas berhubungan dengan siapapun. Nongkrong bareng temen lebih leluasa. Ga ada aturan, tanpa ikatan. Bisa menjalin hubungan (bukan pacaran) dengan lelaki manapun, dengan wanita manapun, tanpa takut dicurigai, tanpa kekangan dari pacar. Ya, bebas sebebas-bebasnya. Jika dalam pacaran kita hanya mencintai dan dicintai satu pasangan. Maka dengan menjadi jomblo kita punya peluang lebih besar buat mencintai dan dicintai teman. Semua teman. gaa cuma satu. Ga perlu backstreet. Ga perlu selingkuh. Ga perlu kucing-kucingan sama orang tua. Dan yang paling utama: GA BERDOSA. (ya, kan..?!)

Jomblo bukan berarti ga laku, bukan berarti ga akan punya pasangan, karena jomblo juga pilihan. Tentu setiap manusia diciptakan berpasangan. Selalu ada orang yang menunggu di luar sana (ngarep), tapi bener kok, itu Qur’an lho. Carilah pasangan jangka panjang, ketika siap nikah, bukan menyukai sesaat dan terbuang seperti sampah.

Laman