Rabu, 23 Maret 2011

Air...Jangan Mubadzir...

Sambut hari air internasional dengan tidak berperilaku Israf (berlebihan). Berlebihan adalah tindakan yang terbentuk karena kita terlalu memperturutkan nafsu, melakukan sesuatu atas dasar keinginan, bukan karena kebutuhan.
Seperti yang telah kita ketahui saudara-saudariku… Air merupakan alat penyuci yang utama dalam thaharah. Syari’at telah menetapkan bahwa selama masih ada air, maka hendaklah kita tidak menggunakan alat yang lain Namun demikian yang hendaknya perlu kita cermati adalah pemanfaatan air itu agar tidak mubadzir dan terbuang begitu saja. Sia-sia, padahal banyak saudara-saudari kita di luar sana yang sangat membutuhkan air, dan tidak mendapatkan air karena kelangkaan. "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlahkamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al Israa: 26-27)
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al Araaf: 31)
Dalam contoh sehari-hari, saat menggunakan air wudhu dan saat makan janganlah berlebihan, kalau kurang lebih baik menambah daripada mengambil secara berlebihan dan sisanya terbuang percuma. Ingat, semua perbuatan kita akan dipertanggung jawabkan, termasuk kelebihan yang mubadzir tadi.
URGENSI THAHARAH
Hampir dalam setiap kitab fiqh, para fuqaha selalu menyimpan pembahasan thaharah sebagai sesuatu yang dibahas di awal BAB. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan atau kesucian dalam Islam. Selain dapat menjaga ummatnya dari berbagai penyakit, thaharah dalam Islam juga berperan sebagai syarat dari sahnya sebuah peribadahan. Seseorang tidak dapat beribadah saat ia memiliki hadats. Ia pun tidak dapat beribadah saat pakaian atau tempat yang akan dilaksanakannya peribadahan terkena najis. Karena urgensinya dalam menegakkan tiang-tiang diin ini, Rasulullah saw. bersabda tentang thaharah, “Ath-Thahuur (suci) itu sebagian daripada Iman.” Dalam al-Quran, Allah swt. menegaskan betapa pentingnya thaharah dalam Islam. Allah swt. berfirman.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah, 2: 222)
Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir, 74: 4)
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams, 91: 9-10)
Allah juga berfirman tentang kewajiban berwudhu untuk membersihkan hadats kecil serta mandi untuk membersihkan hadats besar. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka bersucilah.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 6)
Artinya, tidak akan diterima setiap ibadah yang kita lakukan jika tidak dilakukan dalam kondisi badan yang suci dan bersih. Begitulah Islam mengajarkan sebuah sikap yang sangat menjaga kebersihan dan kesucian. Rasulullah, dalam sabdanya yang lain memberikan gambaran bahwa Allah swt. hanya menyukai yang baik-baik. “Sesungguhnya Allah itu thayyib dan tidak menerima sesuatu kecuali yang thayyib.” Sebagaimana sabdanya juga “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.”
Kebersihan dan kesucian adalah hal yang thayyib yang akan menjadi syarat diterimanya segala sesuatu. Maka dari itu, tidak ada alasan bagi setiap mu’min untuk tidak menjaga kebersihan dan kesucian diri dan lingkungannya. Jika seorang mu’min tidak peduli terhadap kondisi lingkungannya, maka tentulah imannya belum sempurna sebagaimana seorang yang sedang shalat yang kemudian melupakan salah satu dari rukun shalat. Sudah tentu shalatnya tidak diterima. Jangan sampai, keimanan kita tidak diterima oleh Allah swt. dikarenakan kita lalai dalam menjaga kebersihan dan kesucian, baik diri maupun lingkungan kita.dan juga….hindari perilaku syaithan…mubadzir dalam menggunakan air untuk bersuci..hemat air…Met hari air,,,,,,^_~

Akh Ukh, Saya Butuh Perhatian

Oleh Azam_Arfa

Bismillah..

Staf mungkin sebuah kedudukan yang umum akan ditempati oleh seseorang yang masuk sebuah lembaga. Meski memang beberapa orang ada yang langsung menjadi Kadep/koakh atau kedudukan tertentu di atas staf dan ada pula yang selama dua periode menempatai posisi sebagai staf. Yang pasti kedudukan sebagai seorang staf memiliki peran yang sangat penting dalam eksistensi sebuah lembaga. Sayangnya beberapa orang belum terlalu memahami hal ini, bahkan terkadang ada yang cukup acuh dengan keberadaan seorang staf. Yang perlu untuk dipahami disini bukan sebatas mengakui keberadaannya saja, melainkan sebuah perhatian dari seorang kadep/koakh/mas'ul atau kita samakan saja dengan kata qiyadah..

Dia memiliki peran yang penting dalam eksistensi sebuah lembaga, tanpa staf sebuah lembaga akan dipertanyakan keeksistensiannya atau keorganisasiannya. Oleh karennya sebagai seorang qiyadah perlu kiranya untuk memperhatikan kenyamanan stafnya dalam lembaga yang ia pimpin. Hal yang mungkin dianggap sepele oleh sebagain kita, terkadang sangat berharga bagi staf. Misalnya tanya kabar, kondisi, atau mungkin ngajak jalan-jalan, ngobrol, main tebak-tebakkan, atau ngajakin makan, bila perlu ditraktir. (Lo punya duit tak apa, heheheh...). Mungkin konkritnya bisa kita rasakan sendiri saat menjadi staf, dimanapun itu. Kita akan merasa perlu untuk diperhatikan oleh qiyadah kita. Seolah dia adalah orang tua atau kakak kita, tentunya perhatian itu akan sangat berharga sekali.

Tidak hanya bentuk perhatian seperti dituliskan diatas, ada berbagai macam hal bentuk perhatian yang akan membuat staf-staf kita nanti akan merasa diperhatikan. Misalnya saja, ketika dalam agenda-agenda lembaga atau depertemen, kita bisa memberikan kepercayaan sebuah kedudukan yang cukup penting. Bisa juga mengajaknya dalam sebuah pertemuan-pertemuan penting, yang kemudian efeknya dapat memberikan pengalaman yang mendidik dan tentu berkesan bagi mereka. Saya rasa hal ini pun pernah dilakukan oleh kakeknya Rasulullah kala beliau masih kecil. Rasulullah kecil dulu selalu dibawa dalam pertemuan-pertemuan pemuka quraisy untuk membicarakan hal-hal penting. Kita dapat melihat hasilnya, Rasulullah adalah orang yang pandai berbicara dan sangat berpengaruh. Kita dapat belajar dari kepemimpinan beliau, dan para sahabat/sahabiyah saat memerankan sebagai seorang qiyadah.

Tentu anda lebih memahami hal ini, dan tidak semua apa yang tertulis ini kemudian akan tepat jika diperankan oleh sahabat sekalian. Tapi setidaknya tulisan ini dapat merefleksikan pada diri kita, bahwa jundi/staf kita butuh perhatian kita sebagi qiyadahnya. Peran-peran sebagai seorang mas'ul, sekjen, kadep/koakh, akan sangat mendapatkan sorotan dari para staf/jundinya. Memahami peran kita jauh lebih penting dari sekedar memahami posisi kita.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, Wallahualam bi shawab

Juga dimuat di http://azamarfa.blogspot.com/

Minggu, 06 Maret 2011

Ikhlaslah Beramal


Bicara tentang iklhlas, saya jadi teringat film "Kiamat Sudah Dekat", ketika tokoh utama yang dibintangi Andre "Stinky" -seorang anak band yang urakan- ingin menikah dengan puteri seorang Kyai. Permasalahan muncul ketika Kyai tersebut memberi syarat-syarat yang sebenarnya semula berniat ingin memberatkan, agar dia tidak jadi nikah dengan anaknya, karena Sang Kyai sudah punya calon yang dianggapnya mebih baik. Semua syarat diberikan, mulai dari disuruh sunat (supit), harus bisa sholat, bisa ngaji dan ditanya tentang pekerjaan, dan semua ternyata bisa dipenuhi. Hingga pada akhirnya Sang Kyai memberi syarat terakhir -yang lagi-lagi agar memberatkan dan tidak jadi nikah dengan anaknya-, dia memberi syarat agar cowok ini memepelajari ‘ilmu ikhlas’, dalam rentang dua minggu.


Keinginan sudah terlanjur kuat. Cowok ini menyanggupi. Teman-teman bandnya dikerahkan, mencari berbagai referensi, ngobrak-abrik perpustakaan, cari-cari di berbagai toko buku untuk mencari ‘ilmu ikhlas’. Setiap buku yang ada kata 'ikhlas' di dalamnya langsung diambil dan dibeli. Bahkan disatu tempat, teman-temannya ngajak mencabut plang masjid 'Al-Ikhlas'. Lol.

Setiap hari dia habiskan buat membaca buku-buku itu. Bahkan bandnya hampir-hampir dibubarkan karena cowok ini jadi jarang latihan.

Dua minggu berlalu. Cowok ini ternyata tak kunjung menemukan apa yang disebut sebagai ‘ilmu ikhlas’. Ahirnya dia mendatangi Kyai dan berkata pasrah: "Pak Kyai, saya tidak bisa menemukan ilmu ikhlas yang Anda syaratkan. Saya sudah dapat banyak pelajaran dari syarat yang diajukan, sekarang saya bisa sholat dan mengaji, keluarga sayapun demikian. Saya rela meskipun tidak jadi menikah sama puteri Anda". Namun justru karena inilah, Sang Kyai menyadari bahwa si cowok telah menemukan ilmu ikhlas itu, singkat cerita dia pun dinikahkan dengan anaknya.

Melihat kisah tersebut kira-kira apa yang kita fikirkan? (ga ada). Hemm.. baiklah, saya tidak tahu harus menyambungkannya dari sebelah mana, yang jelas di sini saya ingin menyampaikan tentang keikhlasan.

IKHLAS IS...
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersoh tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-NYA dan tidak menyekutuan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangngkan secara istilah, ijhlas berarti mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukannya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

SYARAT DITERIMANYA AMAL
Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat utama diterimanya amal. Simak beberapa dalil ini.
Firman Allah dalam Al-Qur'an (yang artinya): "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya (mukhlis)." (QS. Az-Zumar [39]: 2).
Rasulullah Saw. bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukakan karena mengharap ridha Allah semata" (HR. An-Nasai dan Abu Dawud).
Imam Syafii pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesugguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah ‘Azza wa Jalla”
Seperti itulah pentingnya ikhlas. Sedemikian pentingnya ikhlas ini hingga menjadi pembatas diterima atau tidaknya amal seseorang. Saya kira tidak perlu diberi pembahasan terlalu panjang dibagian ini.

CIRI IKHLAS?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar kita bisa merasakan dan mencoba mengidentifikasi keikhlasan? Apakah bisa seseorang mengatakan: "Dia itu ga ikhlas, cuma pengen dipuji" atau: "Kalo ngasi itu yang ikhlas, dong!". Seolah dia sangat tahu isi hatinya. Lebih adil dan layak, sebenarnya perkara keikhasan adalah prerogatif si pelaku. Dia yang bisa menentukan dan merasakan. Akan cukup sulit memang jika kita ingin menilai keikhlasan orang lain secara dzahir. Namun cara yang paling mudah untuk mengukur keikhlasan seseorang menurut Al-Banna: "Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu."

Ya, kira-kira seperti itulah ciri keikhlasan. Kita sedemikian enggan mnggebar-gemborkan amalan yang dilakukan. Atau secara khusus dalam amalan sedekah, keterangan lain mengatakan : “Jika tangan kananmu memberi, maka janganlah tangan kirimu sampai mengetahui”. Ini artinya ketika kita berinfaq atau shodaqah dengan tangan kanan, maka tangan kiri kita harus disimpan dibelakang, atau dimasukan ke saku celana, kecuali yang kidal (LHO..?! ngawur). Tentu maksudnya bukan begitu, artinya ini bagian dari kehati-hatian dan penjagaan hati agar tidak menimbulkan niatan lain selain karena Allah (riya’). Riya' hanya bisa membuat Allah 'cemburu', karena riya' adalah menduakan Allah syirik (kecil). Ada orientasi selain Allah.

Dalam satu kesempatan, AA Gym pernah menyampaikan bahwa analogi ikhlas adalah seperti kita sedang (maaf) BAB alias Buang Air Besar (entah sebesar apa airnya). Pernah buang air besar, kan? Nah, ketika buang air besar, -apalagi jika di daerah umum (sekolah, kampus, dll.)- maka kita akan berusaha melakukannya serapi dan seefisien mungkin, bukan? Pintu WC dikunci rapat-rapat, pelucutan celana setenang mungkin. Kita pun mulai bertapa (baca: jongkok) dengan sangat berhati-hati dan berusaha mengeluarkan “itu” se-silent-silent-nya, seperti jargon mobil Panther hingga :”nyaris tak terdengar”. Bahkan jika masih kurang, keran airpun dinyalakan untuk meredam dentuman-dentuman roket yang tidak terkontrol. Sementara tangan hanya bisa berpegang teguh pada gayung yang ada. Kemudian ketika selesai, segera diguyur hingga bersih, dan kita keluar sambil bersiul seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Begitulah seharusnya dalam beramal. Dilakukan dengan ikhlas. Kita mengerahkan apapun semaksimal mungkin ketika amal itu dilakukan. Namun jika sudah selesai, lupakan! Cukup Allah yang menilai.

Wallahu A’lam.

(Diar Rosdayana)

Kamis, 24 Februari 2011

Bersama, Kita keluarga..!!!!


Belajar Sebuah makna kehidupan dari Kalimat “Bersama, Kita keluarga..!!!

Teruntuk keluargaku,

Semoga Allah menguatkan langkah kaki kitadan melapangkan dada kita

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingat...lah akan nikmat Allah keadaanmu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”,

dan pada surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.”,

pada surat At-Taubah ayat 71 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

Dan Rasul yang mulia, Muhammad saw. juga pernah bersabda:

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”

Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka- dalam memahami makna persaudaraan dan kekeluargaan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan kepada mereka oleh-Nya pada surat Al-Anfal ayat 63 yang artinya:

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”

Dalam sirah yang nyata, kita dapat ambil hikmah Sang Muhajir yang telah pergi meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya (Mekkah) untuk menyelamatkan agamanya, akhirnya mendapati para pemuda Yatsrib menanti kedatangan mereka dengan penuh rindu dan kehangatan cinta. Mereka semua bergembira menyambutnya, walaupun mereka tidak mengenalnya sebelum itu, tak ada hubungan kekeluargaan yang mengikat mereka, dan tak ada ambisi atau kepentingan tertentu yang mereka harapkan.

Tapi begitulah, aqidah Islam membuat mereka (kaum Anshar) merindukan dan menyatu dengan kehidupan kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar menganggap kaum Muhajirin sebagai belahan jiwanya yang tak terpisahkan, maka sesaat setelah tiba di masjid, orang-orang Aus dan Khazraj segera menghambur mengelilingi mereka. Masing-masing orang dari mereka mengajak kaum muhajirin untuk tinggal di rumahnya, dan untuk itu mereka bersedia mengorbankan harta, jiwa, serta kepentingan keluarganya, Situasinya semakin mengharukan ketika mereka berkeras dengan permintaan mereka, hingga akhirnya rumah kediaman kaum Muhajirin ditetapkan berdasarkan undian. Imam Bukhari meriwayatkan,

“Tak seorang pun Muhajir yang menetap di rumah seorang Anshar melainkan dengan undian.”

Begitulah, sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur’an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah saw. pernah memuji kabilah Asy’ariyah dari Yaman.

“Sebaik-baik kaum adalah kaum Asy’ariyah, bila mereka kesusahan dalam perjalanan atau dalam keadaan menetap, maka mereka mengumpulkan semua yang mereka miliki, lalu mereka simpan di tempat perbekalan mereka, kemudian membaginya secara merata,”

Bila kalian membaca Al-Qur’an, Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan kita temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan telinga dan hati kita. Dan itulah arti keluarga bagi kita, keluarga yang bersatu atas dasar kekuatan aqidah dan kekuatan iman. Karena itulah saudaraku, mengapa kita bersatu dan bergerak bersama dalam langkah gerak meraih keridhoanNya. Karena kita keluarga…

Mengutip dari buku dalam dekapan ukhuwah..

Mendalami agungnya cerita para sahabat yang terlingkar dalam dekapan ukhuwah, membuatku banyak menerawang semua kisah yang mungkin sangat tak berbekas dibanding mereka..

Hanya saja, cerita-cerita sederhana itu, seperti menjadi kenangan-kenangan yang akan selalu membuat aku berkata ke dalam diri.. “bahwa dalam dekapan ukhuwah, kutemukan jalan cinta untuk Yang Maha Cinta..” Sejatinya, ia bukan hanya sekedar membuatku lapang dalam sempit, atau merasa sangat antusias meski lelah, lebih dari itu semua, dalam dekapan ukhuwah mengajarkan kepadaku untuk lebih memahami bahwa persaudaraan yang kokoh berdiri adalah jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita.. “Akankah kita mampu bertahan ?”…

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah. Ku do’akan kita masih Istiqomah, kita tak mau kalah untuk berkeringat, kita tak mau resah untuk sebuah pekerjaan yang terasa berat..

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah, kutitipkan semua kekuatan yang mungkin aku punya dan kau tak punya, agar ia terbang bersama, kemudian kita mampu saling bertukar semangat…

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah. kukirimkan setumpuk harap yang sederhana, namun berharap ia mampu saling menguati, kalimat sederhana ini hanyalah catatan-catatan bagi cerita perjalanan kita yang tak banyak diketahui orang selain diri kita, Allah dan orang-orang yang ikhlas bersama-Nya..

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah, kutanamkan ikhlas sebagai pedoman, kusemai iman sebagai kekuatan, dan kusuburkan keyakinan sebagai jawaban dari setiap persoalan.. Seperti hamparan kisah Hajar dengan keyakinannya pada Allah, seperti tumpukan rasa yakin Yunus as dalam do’a-do’a penuh penghambaannya.. Semuanya akhina, ikhlas, iman, dan keyakinan yang kokoh mengakar dalam diri kita yang akan membuat kita memahami kenapa Sayyid Qutb tersenyum tenang menjelang syahid, kenapa Yusuf Qardhawi dengan tenang melanjutkan syuro ketika masih dalam keadaan lapar, atau ketika para pendahulu dakwah ini berlelah-lelah untuk sekedar menyampaikan kalimat-kalimat tausyiah bagi para pejuang yang haus akan cinta-Nya..

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah, kusadari, bahwa setiap perjuangan bukanlah hal yang mudah. Ia meleburkan semua kebahagiaan, menghapus semua sifat pengandaian kita, menghujam dan menusuk semua sifat kemalasan kita, hanya saja, disetiap akhir cerita yang panjang dan menguras tenaga ini, Allah selalu menggantinya dengan kebahagiaan yang merasuk, kenyamanan yang membumi, hingga getar-getar cinta yang agung dan merambat di dalam jiwa-jiwa kita agar selalu tunduk pada-Nya..

Dalam dekapan ukhuwah islamiyah, kupelajari satu yang tak pernah kudapat dari yang lain. Bahwa bekerja bukan hanya berarti melakukan apa-apa yang kita cintai. Namun bekerja, juga merupakan terjemahan dari berlelah-lelah bagi apa yang kita tidak sukai, bahkan sekalipun itu menyangkut dengan kenyamanan hidup kita. Maka karena kita telah berani untuk bersumpah dan bekerja bersama-Nya, jadilah hati dan jiwa kita takkan pernah habis di isi kekuatan oleh-Nya untuk bergerak, takkan pernah habis diisi dengan mata air segar yang selalu memancarkan kebaikan dalam episode-episode hari kita.. Dalam dekapan ukhuwah akhina.. Aku belajar semuanya…

Saudaraku,

Aku, kamu dan kita semua, pernah merasa tak layak untuk sekedar berjuang dalam dekapan ukhuwah.. Mungkin karena kurangnya ilmu, kurangnya amal dan kurangnya iman di dalam diri.. Namun, karena dalam dekapan ukhuwah telah menawarkan sejuta cinta yang menggetarkan untuk-Nya, maka karena-Nya, aku akan terus bertahan, terus meretas jalan perjuangan, dan terus berlelah-lelah untuk menggapai kemenangan.. Dalam dekapan ukhuwah berharap semuanya juga mampu kita rasakan dan kita amalkan..

Saudaraku,

Diakhir tulisan ini aku berharap, akhir dari dalam dekapan ukhuwah kita, bermuara pada telaga kautsar yang disampingnya telah ditunggu oleh Sang Lelaki Mulia, Nabi Muhammad SAW. (Witantri)

Laman