Selasa, 02 Agustus 2011

Kepompong Ramadhan

Saudara/iku… Tamu Agung kita sudah di depan mata. Tentunya persiapannya telah matang bukan?? Seperti yang kita ketahui bahwa semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali  shaum. “Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (Hr. Bukhari Muslim).

Saudara/iku…Pernahkan engkau  melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat burlu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah engkau kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda keMahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur'an dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam 'kepompong' Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan "metamorfosa" dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.
Inti dari ibadah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at [79] : 40 - 41).

Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala," demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.
Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.***
“Tiada Yang Kami Inginkan Selain Perbaikan
JAMA-ISH_Bersama Kita, Keluarga_

Minggu, 31 Juli 2011

Berawal dan Berakhir dengan Indah

Oleh Cholid Faizal
Permulaan yang baik seharusnya mendapatkan penutupan yang baik pula. Di sinilah pentingnya menyadari dan memahami bahwa setiap aktivitas tidak hanya dinilai oleh awalnya yang baik atau bagaimana akhirnya. Keseluruhan dari aktivitas tersebut masing-masing mempunyai nilai. sebab proses bagaimana aktivitas itu diawali, dijalankan, dan diakhiri semuanya merupakan sesuatu hal yang sangat penting.

Masa Jamais adalah masa terindah bagi setiap orang yang melaluinya. Kurang lebih 1 tahun saya menjadi saksi bisu kebersamaan setiap insan yang ada didalamnya. Masa Jamais telah memberikan pelangi kehidupan bagi anggotanya. Walau di dalamnya terdapat kenakalan diantara kedisiplinan, pertengkaran diantara kebersamaan, kearoganan diantara kerendahan hati, keegoisan diantara kepedulian, kesakit hatian diantara kebesaran hati, kesedihan diantara kebahagiaan hingga berujung tangisan diantara senyuman.

Berbagai macam perbedaan seolah menjadi dinding pemisah diantaranya. Padahal, dinding itu seharusnya menjadi tempat untuk mengukir ukhuwah yang telah di rajut bersama. Dimana ukhuwah itu bagaikan jeruk, asam manis rasanya, namun tetap disukai oleh penikmatnya. Begitu pula dalam ukhuwah, ada suka maupun duka, ada bahagia maupun sedih, ada canda dan tawa, ada cinta maupun benci, namun tidak pernah ditinggalkan. Betapa indahnya pelangi kehidupan yang menghiasi langit Jamais ini. Sehingga tak semudah membalikan telapak tangan untuk menghilangkannya dari bayangan maupun ingatan.

Nantinya masa Jamais tak lagi bersamaku. Pelangi Jamais pun akan hilang. Tak terasa masa Jamais nantinya akan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Tapi aku tak perlu bersedih karena perpisahan bukanlah akhir dari segalanya karena akan kutemukan pelangi yang akan menyerupai Jamais di lingkungan baruku kelak dan tak akan ku biarkan perpisahan ini menjadi gunting pemisah tali ukhuwah diantara kita yang hakiki dan selalu disimpan didalam hati hingga akhir nanti terbentuknya pelangi yang lainnya.

Alangkah indahnya perpisahan ini jika di akhiri dengan senyuman. Senyuman yang menandakan bahwa kita siap melangkah maju mengarungi samudra kehidupan yang sebenarnya. Dengan senyuman, aku siap kumpulkan spirit dan azam  untuk berlayar di samudra seberang  untuk menggapai cita-cita yang telah ku gantungkan.
Mari Kita tegakan keberanian untuk membela kebenaran. Karena kita adalah punggawa-punggawa yang di tunggu kontribusinya. So, kita hanya boleh takut jika kita merasa salah. Bangkitkan semangat dalam diri dan kabarkan kepada semuanya bahwa kita bisa serta raihlah kebahagian sejati karena tiada kemuliaan tanpa kesungguhan.

"Sesuatu selalu membutuhkan pengorbanan. Mari berjuang untuk mendapatkan harapan dan keinginan kita. Jangan putus asa dan bersiaplah untuk bertarung. Berikan senyum terbaik  ketika mengatakan selamat tinggal pada Jamais-FISE UNY"
-Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara (49;10)-
 “Bersama kita keluarga - Tiada yang kami inginkan selain KEBERSAMAAN”

Semangat Menyambut Ramadhan

Oleh Rakhyan Risnu Sasongko
Beberapa hari ini suasana terlihat lebih Islami. Banyak yang berubah, mulai dari iklan televisi, sinetron, poster-poster, sualayan yang mulai menjual aneka makanan dengan konsep ala timur tengah dan kurma-kurma yang tentu tak akan ketinggalan. SMS dari keluarga dan teman-teman yang puitis dan romantis dengan nuansa Islami, dan semua umat muslim di dunia ini berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah. Tapi ini tak heran, kita sama-sama menyadari bahwa Ramadhan sebentar lagi. Subhanallah…

Bulan Ramadhan, sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Bulan yang sangat indah, dengan berbagai keistimewaannya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, “Lembaran-lembaran (Shuhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadhan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada dua puluh empat Ramadhan.” (HR. Ahmad dalam Musnad, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no 1575).

Dalam Bulan Ramadhan Allah telah mengaruniainya sebagai bulan untuk berpuasa melatih diri menundukkan kekuatan hawa nafsu yang senantiasa mengajak pada kesesatan, sehingga kembali kepada fitrah. Sehingga sangat disayangkan, jika di bulan yang penuh nikmat ini kita menyia-nyiakannya. Jangan sampai kita dikalahkan oleh tayangan televisi yang telah merubah dirinya menjadi islami, tapi kita sendiri telah meninggalkan amalan-amalan kita. Atau jangan sampai kita sibuk mempersiapkan agenda-agenda untuk Ramadhan, tapi kita lupa untuk mempersiapkan diri menyambut tamu agung “Ramadhan”.

Pada bulan Ramadhan Allah juga telah mengaruniakannya sebuah malam yang indah, yaitu malam “Lailatul Qadr”. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadr; Dan tahukan kamu apakah laylatulqadr itu?; Lailatul Qadr itu lebih baik daripada 1000 bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Rugi rasanya ketika pada malam itu kita hanya sibuk dengan urusan duniawi saja.

Ramadhan memang beigitu indah, tak heran banyak orang yang rindu ingin segera jumpa dengnnya. Jangan sampai Ramadhan hanya dijadikan program untuk pelangsingan badan atau program untuk menghemat uang saja. Begitu juga, jangan sampai kita sia-sia melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan sehingga hanya lapar dan dahaga saja yang kita dapatkan. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk mereformasi akhlak kita. Ketika pasca Ramadhan tidaklah terjadi perubahan sikap menjadi lebih baik, maka dapat dipastikan bahwa reformasi akhlak yang dilakukan saat Ramadhan gagal. “Rasulullah SAW adalah orang yang sangat dermawan dan paling giat beribadah, tetapi memasuki 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan beliau lebih dermawan dari biasanya, beliau lebih giat beribadah, menghidupkan (tidak tidur) malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (H.R. Bukhari). Sehingga seharusnya telah menjadi sebuah kebiasaan dalam benak setiap muslim untuk senantiasa memastikan bahwa kita akan selalu mereformasi akhlak kita menjadi lebih baik dan terus menjadi lebih baik lagi ketika telah memalui gerbang Ramadhan.

Mari bersama kita menyiapkan diri untuk menyambut Ramadhan. Bukanlah waktu yang terlambat ketika kita ingin merubah sikap kita, meningkatkan kualitas diri kita menjadi pribadi yang baik. Selamat menyambut Ramadhan, selamat meningkatkan amalan-amalan, dan semangat menyambut Ramadhan.

Rabu, 15 Juni 2011

Muslim Negarawan

Muslim negarawan, sepertinya sebuah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga saya dan mungkin di telinga para pembaca semuanya. Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini sudah tidak asing lagi dengan dunia politik dan urusan tentang negara. Kita kenal madinah, sebuah wilayah yang kita kenal sebagai wilayah paling sukses menerapkan hukum yang kita kenal dengan piagam madinah. Sebuah piagam yang diambil nilai-nilainya dari hukum Allah. Madinah adalah sebuah dambaan bagi setiap pemimpin dunia untuk mewujudkan negaranya menjadi layaknya madinah yang kita kenal dengan masayarakat madani.

Masayarakat madanai ini tak lepas dari seorang tokoh pemimpin dunia yang sangat tidak asing algi yaitu Rasulullah Muhammad Saw. Sosok pemimpin yang sangat jujur, amanah, penyampai pesan yang baik, dan sangat cerdas. Sosok pemimpin yang sangat didambakan oleh setiap umat manusia. Beliau yang dilahirkan dengan kondisi yatim dan kemudian disusul ibundanya yang meninggal kala beliau masih berusia enam tahun. Beliau yang saat masih muda dijuluki Al-Amin oleh para penduduk setempat karena kejujurannya. Sosok seperti beliaulah yang cocok memimpin Indonesia bahkan dunia saat ini.

Jika saat ini Indonesia sedang kehabisan stok pemimpin yang jujur, amanah, seorang penyampai pesan yang baik, dan sosok yang cerdas. Maka patutlah jika kita menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang baik bagi kita. Memang banyak yang menyangsikan, karena ketiadaan beliau karena telah wafat. Tapi bagi saya itu bukanlah alasan. Banyak sirah-sirah yang ditulis oleh para pakar yang baik. Bnyak yang menulisakan biografi tentang beliau. Banyak pula yang menulisakn  tentang kepribadian beliau. Jadi bukanlah alasan tidak ada contoh atau teladan saat ini untuk dijadikan tokoh idaman bagi diri kita yang kelak akan menjadi pemimpin, karena sudah kodratnya, setiap kalian adalah pemimpin.

Musliam negarawan bagi saya bukanlah hal yang tabu atau bahkan mustahil. Islam sangat sempurna (syumul), membahas segalanya dalam kitab suci yang abadi sepanjang zaman Al-Qur'an. Tidaklah mustahil untuk seorang muslim menjadi suri tauladan, menjadi seorang oemimpin layaknya Rasulullah, meski tidak sesempurna Rasulullah. Abu Bakar kala beliau menjadi seorang Khalifah sempat berkata, "Sya bukanlah orang yang paling baik diantara kalian." Itu benar, karena segala sesuatu yang baik hanyalah milik Allah, tugas kita hanya menyampaikannya. Abu Bakar pun pernah meminta para sahabatnya untuk membantunya menyelesaikan masalah. Berarti ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kebijaksanaan seorang pemimpin terletak pada saat dia bisa melibatkan setiap individu yang dipimpinnya untuk turut berpartisipasi dalam setiap keberlangsungan negaranya.

Jika banyak yang meributkan tentang sistem kekhlaifahan di Indoensia, maka sangat terlalu prematur jika mereka lupa memperhatikan, kondisi masyarakatnya. Bukan pada kemajemukannya saja, melainkan lebih pada kepahaman tentang sistem pemerintahan Islam yang sesungguhnya. Madinah yang kala itu juga majemuk, dengan tiga agama yang ada di dalamnya, ada Islam, Yahudi, dan Kristiani telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai pemerintahan Islam yang memperhatiakan hak setiap individu yang ada di dalam naungannya. Rasulullah sebagai pemimpinnya kala itu telah menunjukkan keadilannya dalam memimpin setiap individu yang ada di dalam naungannya. karena itulah yang seharusnya diperhatikan setiap pemimpin dalam memimpin rakyatnya.

Kepemimpinan Islam itu butuh pemahaman pada diri setiap individu yang hidup di dalamnya, dan seorang pemimpin butuh kebijaksanaan yang dapat diterima setiap hati rakyatnya. Sososk muslim negarawan yang sangat baik adalah Rasulullah, para sahabtanya (khulafaur rasyidin), dan para pemimpin Islam lain yang telah berhasil menjadikan jiwa setiap rakyatnya adalah kesatria Islam sejati, seperti Muhammad Al Fatih, Hasan Al-Bana, Sayyid Quthb, dan masih banyak lagi lainnya. Masih ada juga para pemimpin yang meski mereka bukan seorang muslim, tapi terbukti mampu memimpin dan memberikan pengaruh besar dalam diri setiap rakyatnya, diantaranya adalah Abraham Lincoln, Mahatma Gandi, dan lainnya.


Betapa banyak teladan untuk dijadikan teladan mulai dari yang muslaim sampai mereka yang non muslim, dan sebagai seorang muslim tentu harus lebih paham bagaimana sifat kepemimpinan yang baik, karena mempunyai contoh yang sangat luar buasa yaitu Rasulullah Muhammad Saw untuk dijadikan teladan sebagai muslim negarawan.

Laman