Minggu, 06 Maret 2011

Ikhlaslah Beramal


Bicara tentang iklhlas, saya jadi teringat film "Kiamat Sudah Dekat", ketika tokoh utama yang dibintangi Andre "Stinky" -seorang anak band yang urakan- ingin menikah dengan puteri seorang Kyai. Permasalahan muncul ketika Kyai tersebut memberi syarat-syarat yang sebenarnya semula berniat ingin memberatkan, agar dia tidak jadi nikah dengan anaknya, karena Sang Kyai sudah punya calon yang dianggapnya mebih baik. Semua syarat diberikan, mulai dari disuruh sunat (supit), harus bisa sholat, bisa ngaji dan ditanya tentang pekerjaan, dan semua ternyata bisa dipenuhi. Hingga pada akhirnya Sang Kyai memberi syarat terakhir -yang lagi-lagi agar memberatkan dan tidak jadi nikah dengan anaknya-, dia memberi syarat agar cowok ini memepelajari ‘ilmu ikhlas’, dalam rentang dua minggu.


Keinginan sudah terlanjur kuat. Cowok ini menyanggupi. Teman-teman bandnya dikerahkan, mencari berbagai referensi, ngobrak-abrik perpustakaan, cari-cari di berbagai toko buku untuk mencari ‘ilmu ikhlas’. Setiap buku yang ada kata 'ikhlas' di dalamnya langsung diambil dan dibeli. Bahkan disatu tempat, teman-temannya ngajak mencabut plang masjid 'Al-Ikhlas'. Lol.

Setiap hari dia habiskan buat membaca buku-buku itu. Bahkan bandnya hampir-hampir dibubarkan karena cowok ini jadi jarang latihan.

Dua minggu berlalu. Cowok ini ternyata tak kunjung menemukan apa yang disebut sebagai ‘ilmu ikhlas’. Ahirnya dia mendatangi Kyai dan berkata pasrah: "Pak Kyai, saya tidak bisa menemukan ilmu ikhlas yang Anda syaratkan. Saya sudah dapat banyak pelajaran dari syarat yang diajukan, sekarang saya bisa sholat dan mengaji, keluarga sayapun demikian. Saya rela meskipun tidak jadi menikah sama puteri Anda". Namun justru karena inilah, Sang Kyai menyadari bahwa si cowok telah menemukan ilmu ikhlas itu, singkat cerita dia pun dinikahkan dengan anaknya.

Melihat kisah tersebut kira-kira apa yang kita fikirkan? (ga ada). Hemm.. baiklah, saya tidak tahu harus menyambungkannya dari sebelah mana, yang jelas di sini saya ingin menyampaikan tentang keikhlasan.

IKHLAS IS...
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersoh tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-NYA dan tidak menyekutuan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangngkan secara istilah, ijhlas berarti mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukannya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

SYARAT DITERIMANYA AMAL
Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat utama diterimanya amal. Simak beberapa dalil ini.
Firman Allah dalam Al-Qur'an (yang artinya): "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya (mukhlis)." (QS. Az-Zumar [39]: 2).
Rasulullah Saw. bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukakan karena mengharap ridha Allah semata" (HR. An-Nasai dan Abu Dawud).
Imam Syafii pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesugguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah ‘Azza wa Jalla”
Seperti itulah pentingnya ikhlas. Sedemikian pentingnya ikhlas ini hingga menjadi pembatas diterima atau tidaknya amal seseorang. Saya kira tidak perlu diberi pembahasan terlalu panjang dibagian ini.

CIRI IKHLAS?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar kita bisa merasakan dan mencoba mengidentifikasi keikhlasan? Apakah bisa seseorang mengatakan: "Dia itu ga ikhlas, cuma pengen dipuji" atau: "Kalo ngasi itu yang ikhlas, dong!". Seolah dia sangat tahu isi hatinya. Lebih adil dan layak, sebenarnya perkara keikhasan adalah prerogatif si pelaku. Dia yang bisa menentukan dan merasakan. Akan cukup sulit memang jika kita ingin menilai keikhlasan orang lain secara dzahir. Namun cara yang paling mudah untuk mengukur keikhlasan seseorang menurut Al-Banna: "Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu."

Ya, kira-kira seperti itulah ciri keikhlasan. Kita sedemikian enggan mnggebar-gemborkan amalan yang dilakukan. Atau secara khusus dalam amalan sedekah, keterangan lain mengatakan : “Jika tangan kananmu memberi, maka janganlah tangan kirimu sampai mengetahui”. Ini artinya ketika kita berinfaq atau shodaqah dengan tangan kanan, maka tangan kiri kita harus disimpan dibelakang, atau dimasukan ke saku celana, kecuali yang kidal (LHO..?! ngawur). Tentu maksudnya bukan begitu, artinya ini bagian dari kehati-hatian dan penjagaan hati agar tidak menimbulkan niatan lain selain karena Allah (riya’). Riya' hanya bisa membuat Allah 'cemburu', karena riya' adalah menduakan Allah syirik (kecil). Ada orientasi selain Allah.

Dalam satu kesempatan, AA Gym pernah menyampaikan bahwa analogi ikhlas adalah seperti kita sedang (maaf) BAB alias Buang Air Besar (entah sebesar apa airnya). Pernah buang air besar, kan? Nah, ketika buang air besar, -apalagi jika di daerah umum (sekolah, kampus, dll.)- maka kita akan berusaha melakukannya serapi dan seefisien mungkin, bukan? Pintu WC dikunci rapat-rapat, pelucutan celana setenang mungkin. Kita pun mulai bertapa (baca: jongkok) dengan sangat berhati-hati dan berusaha mengeluarkan “itu” se-silent-silent-nya, seperti jargon mobil Panther hingga :”nyaris tak terdengar”. Bahkan jika masih kurang, keran airpun dinyalakan untuk meredam dentuman-dentuman roket yang tidak terkontrol. Sementara tangan hanya bisa berpegang teguh pada gayung yang ada. Kemudian ketika selesai, segera diguyur hingga bersih, dan kita keluar sambil bersiul seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Begitulah seharusnya dalam beramal. Dilakukan dengan ikhlas. Kita mengerahkan apapun semaksimal mungkin ketika amal itu dilakukan. Namun jika sudah selesai, lupakan! Cukup Allah yang menilai.

Wallahu A’lam.

(Diar Rosdayana)


EmoticonEmoticon

Laman