Kamis, 09 Juni 2011

Trauma akut Indonesia "Akan Segera Bangkit"

Tags

Oleh Azam-Arfa
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”. (Paragrap pertama Pembukaan UUD 45).

Indonesia adalah sebuah negara besar yang didirikan dengan semangat kekeluargaan. Perjuangan untuk terbebas dari penjajahan sepertinya telah terlepas pada tahun 1945, yang kemudian Ir. Soekarno dan Bung Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Sangat membekas dalam ingatan kita tentang paragraf pertama dalam Pembukaan UUD 1945 yang ada di atas. Indonesia yang sangat menjunjung sebuah kemerdekaan tanpa penjajahan, baik itu secara fisik, politik, ekonomi, ideologi, dan sebagainya. Indonesia yang sangat mengedepankan nilai-nilai gotong royong yang tersirat dalam Pancasila sebagai dasar negara. Namun bisa kita lihat Indonesia sekrang.

Seolah telah kembali terjajah secara pemikiran, ekonomi, politik, dan fisik (meski tidak secara langsung). Pancasila yang dulu digadang-gadang oleh Ir. Soekarno sebagai ideologi yang mampu menaungi dua ideologi besar yang ada di dunia. pancasila sebagai ideologi yang diambil dari nilai-nilai asli yang ada di tanah Indonesia, kini seolah hanya sebagai pajangan di lembaga-lembaga negara, sekolah-sekolah, dan kantor-kantor lainnya, serta yang selalu dibacakan ketika upacara bendera yang setiap hari senin dan upacara kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus, namun tanpa ada penghayatan yang jelas tentang nilai-nilainya.

Rasanya baru kemarin kita memperingati hari lahirnya Pancasila, namun lihatlah pada hari itu, seolah tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Berbeda saat tahun baru dan hari valentine yang sangat ramai. Apakah 1 Juni itu jauh sangat tidak penting dibandingkan tahun baru dan hari valentine? Rasanya miris sekali, apakah ini karena trauma akut yang diderita Bangsa Indonesia?

Kecewa terhadap rezim kala itu yang memanfaatkan pancasila sebagai alat kekuasaan itu wajar, tapi bagi saya, melupakan pancasila sebagai dasar negara itu sudah merupakan ketidak wajaran bagi negara yang berhasil merdeka dengan sebuah takbir terhadap Allah Yang Esa, yang tentu tersirat dalam sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa". Ketidak wajaran bagi saya dengan saling menghormatinya karena kemajemukan tanah Indoensia dan dengan semangat kekeluargaannya yang tersirat dalam sila kedua, tiga dan empat. Sebuah ketidakwajaran ketika ketidakadilan justru menjadi hal sangat lumrah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang ini sangat menyimpang dari sila kelima.

Sungguh trauma akut ini hendaknya disadari oleh segenap rakyat Indoensia. Pemimpin yang seharusnya mencontohkan tentang nilai-nilai Pancasila, justru sangat menghianati apa itu gotong royong. Terlalu banyak kepentingan yang membuat Pancasila terlupakan. Menjajah bangsa sendiri justru menjadi hal yang lumrah, yang penting hak-hak pribadinya tidak terjajah. Apakah ini mental para pemimpin saat ini?

Bayangkan saja, tanah papua yang sangat kaya, justru seolah yang paling miskin jika dibandingkan dengan pulau-pulau yang lain. Gunung emas dan sumber daya mineral lainnya yang ada di sana, justru menjadi neraka tersendiri bagi para penduduk lokal. Dikeruk habis-habisan tanpa mereka tahu, betapa banyak kekayaan sesunggunya tanah papua.
Pemandangan yang terlalu terbiasa jika kita jalan-jalan ke kota-kota besar. Pengemis, anak-anak jalan, para pengamen, pedagang asongan, pemungut barang-barang bekas, para pencopet dan perampok, itu adalah potret penjajahan oleh bangsanya sendiri. Kekayaan alam Indonesia justru malapetaka bagi rakyatnya. Memang sekali lagi, lunturnya nilai-nilai Pancasila telah menjadi penyakit akut.

Perlu adanya kesadaran dari pribadi setiap umat, karena dengan demikianlah kita akan dapat memahami urgensi dari kegotongroyongan. Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang terpatri jelas dalam pita yang dicengkram sang garuda. Tameng-tameng Pancasila yang dikalingkan pada leher sang garuda adalah bukti betapa tangguhnya sesungguhnya bangsa ini. Luasnya tanah Indonesia menunjukkan sesungguhnya kualitas manusia-manusia Indonesia yang mampu mengolah tanah pertiwi ini. Sebuah kualitas yang tidak dapat dimiliki oleh bangsa lain. Hanya saja, manusia-manusia Indonesia belum tahu cara mengolah tanah ini. Belum tahu tahap-tahap untuk mengolahnya, dan belum tahu lagi, bagaimana caranya mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya sesuai dengan nilai-nilai Allah, khususnya tentang janji Allah yang akan memberikan berkah terhadap sebuah negara yang rakyatnya beriman dan bertaqwa. Indonesia-lah negara itu, Indonesia-lah negara besar itu, yang akan segera bangkit dengan segenap syukur terhadap Allah Tuhan Semesta Alam.


EmoticonEmoticon

Laman