Jumat, 30 Maret 2012

Ngaji, Siapa Takut?!...

Tags

Oleh: Linda Nur Ramly*

    Saat senja kian merekah mempertontonkan keindahan nya. Menyapa jiwa kelabu yang haus akan kerinduan pada hati nan jauh disana. Tak terasa tetes air mata menetes membentuk dua anak sungai yag mengalir deras. Dengan sedikit isakan tangis dalam dekapan kedua tangan, menenggelamkan wajah sedalam-dalamnya, dengan lirih hati berkata, “aku rindu…”
    Saat senja mulai pergi, saat itu pula kian terasa rindu dalam diri, mendorong keinginan untuk secepatnya meneriakan, “ PENGEN PULANG!!!!!!!!!!!!”
    Oke, cukup sudah ber lebe-lebe alias berlebay-lebay ria. Intinya, cerita diatas mungkin sedikit mewakili ungkapan hati setiap jiwa yang memang dilanda kerinduan kepada keluarganya dirumah (khusus bagi yang anak perantauan he…), mereka yang rindu sama Ibu, Bapak, Mamih, Papih, Emak, Bapak, Ummi, Abi, Ambu, Abah, Papah, Mamah, dan segala sebutan sayang untuk orang tua (kalau disebutkan semua bisa jadi berlembar-lembar, ongkos cetak mahal euy, jadi kalo yang merasa nggak kesebut jangan nangis ya, hapunten…), bisa menghabiskan waktu semalam suntuk untuk meratapi kerinduannya hingga saat pagi menyapa mata mereka sudah sembab, bukan karena sudah menangis semalam, tapi karena baru bangun tidur. Gubrakkkk!
    “Mahasiswa”, pelaku intelek-tual tertinggi, penyambung lidah rakyat, agen perubahan alias agent of change dan segala sebutan bagi mereka penyandang gelar aktivis kampus memang sering dianggap kaum “terpandang”. Saat isu-isu tentang kebijakan kampus atau pemerintah yang dianggap tidak “menyejahterakan”, merekalah yang berada dibarisan paling depan dalam front pembela rakyat dan menyuarakan gugatannya. Namun pernahkah kita menyelami isi hati mereka yang terdalam, ada sebongkah hati yang merindu disana, hiks…hiks….
    Kewajiban atau amanah utama mereka “mahasiswa” adalah untuk kuliah, meski sekali-kali mereka menambah kesibukan dengan mengikuti berbagai organisasi mahasiswa atau kegiatan kreativitas mahasiswa lainnya, seperti BEM, HIMA, SKI dan lain-lain. Namun di tengah kesibukan itu, tentu ada masa saat mereka “mahasiswa” merasa jenuh, capek, galau, bahkan kondisi keimanannya bisa futur. Saat itulah kondisi rohani membutuhkan nutrisi.
    Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki 3 potensi, yaitu Al-Jasad (Jasmani), Al-Aql (akal) dan Ar-Ruh (rohani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS. 55: 7-9.  Jasad membutuhkan nutrisi berupa makanan yang bergizi agar membantu memulihkan tenaga untuk kembali melakukan aktivitas “(Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halaalan thayyiban (halal dan baik) [80:24, 2:168], beristiharat [78:9], kebutuhan biologis [30: 20-21] & hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat)”. Otak, salah satu potensi berikutnya yang kerjanya cukup keras bagi mahasiswa dalam menambah wawasannya dibidang keilmuan, nutrisinya berupa membaca, berdiskusi dan menulis (tiga tradisi akademik). Yang terakhir rohani atau jiwa, aspek yang kadang sering dilupakan namun memiliki peran yang sangat sakral dalam diri manusia, jiwa yang lemah akan mempengaruhi fisik yang lemah, kerja otak pun semakin menurun, sebaliknya, saat jiwa dalam keadaan kuat, dua aspek yang lain pun akan kuat, dan nutrisi jiwa adalah, ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah(dzikrullah). Ibadah disini dapat dicabang-cabangkan lagi(kaya pohon aja bercabang2).
    Menuntut ilmu, membaca al-quran, mengikuti kajian, itu juga masuk kedalam contoh-sontoh makanan ruh atau rohani. Kajian adalah salah satu unsur yang terpenting. Karena dalam kajian kita senantiasa dituntut untuk memahami lebih dalam keislaman kita. Bukankah ilmu itu lebih didahulukan dari pada amal? Maksudnya, ilmu dulu baru amal, agar kita tidak salah dalam melangkah.
    Untuk mendapatkan kajian, kita tidak perlu mengeluarkan biaya mahal-mahal, tinggal datang ke masjid atau menghadiri acara kajian yang diselenggarakan oleh SKI, duduk dan menyimak, tidak susah toh?
    Al-Islah sebagai salah satu lembaga SKI di kampus khusunya warga FIS sering mengadakan acara kajian dengan pembicara yang tidak hanya pakar dalam keilmuannya dibidangnya tapi juga asyik dan so pasti nggak bikin boring,(tergantung bawaan mood setiap individunya dink, kalo emang lagi galau.com mau digimanain lagi?). so, bagi mereka yang sedang dihantui rasa galau, kerinduan pada suasana kekeluargaan dan ingin memperbanyak teman, datang aja ke Kantin Ceria(Kajian Rutin Cerdaskan Iman dan Akhlaq), salah satu program unggulan dari departemen Syiar yang memfasilitasi dalam bidang pelayanan umat. Disana selain kita dapat menambah wawan keilmuan kita, juga dapat menambah teman dan keluarga baru yang menjauhkan kita dari sifat galau dan kesepian, di jamin rame deh… Jadi  jangan pernah terlewatkan yuaaaaaaa!...^^

*Mahasiswa P.sejarah 2011 dan Staff  Media Al-Islah…


EmoticonEmoticon

Laman